selamat datang

Karena Semua Hal Perlu Dikomunikasikan :))
Tampilkan postingan dengan label catatan kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan kuliah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

Sekilas Menilik Budaya ..

Filosofi Kebaya
            Bagi seorang wanita Jawa, kebaya bukan hanya sebagai sebatas pakaian. Lebih dari itu kebaya juga menyimpan sebuah filosofi tersendiri. Sebuah filosofi yang mengandung nilai-nilai kehidupan. Keberadaan kebaya di Indonesia bukan hanya sebagai menjadi salah satu jenis pakaian. Kebaya memiliki makna dan fungsi lebih dari itu. Bentuknya yang sederhana bisa dikatakan sebagai wujud kesederhaan dari masyarakat Indonesia. Nilai filosofi dari kebaya adalah kepatuhan, kehalusan, dan tindak tanduk wanita yang harus serba lembut. Kebaya selalu identik dipasangkan dengan jarik atau kain yang membebat tubuh. Kain yang membebat tubuh tersebut secara langsung akan membuat siapapun wanita yang mengenakannya kesulitan untuk bergerak dengan cepat. Itulah sebabnya mengapa wanita Jawa selalu identik dengan pribadi yang lemah gemulai.
Menggenakan kebaya akan membuat wanita yang mengenakannya berubah menjadi seorang wanita yang anggun dan mempunyai kepribadian. Potongan kebaya yang mengikuti bentuk tubuh mau tidak mau akan membuat wanita tersebut harus bisa menyesuaikan dan menjaga diri. Setagen  yang berfungsi sebagai ikat pinggang, bentuknya tak ubah seperti kain panjang yang berfungsi sebagai ikat pinggang. Namun justru dari bentuknya yang panjang itulah nilai-nilai filosofi luhur ditanamkan, merupakan symbol agar bersabar/jadilah manusia yang sabar, erat kaitannya dengan peribahasa jawa “dowo ususe” atau panjang ususnya yang berarti sabar.

Sekilas Tentang Kain Batik dan Sejarahnya
Kata Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya “wax-resist dyeing”(www.wikipedia.com). Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.
Tradisi falsafah Jawa yang mengutamakan pengolahan jati diri melalui praktek-praktek meditasi dan mistik dalam mencapai kemuliaan adalah satu sumber utama penciptaan corak-corak batik tersebut selain pengabdian sepenuhnya kepada kekuasaan raja. Motif-motif batik tidak sekedar gambar atau ilustrasi saja namun motif-motif batik tersebut dapat dikatakan ingin menyampaikan pesan, karena motif-motif tersebut tidak terlepas dari pandangan hidup pembuatnya, dan lagi pemberian nama terhadap motif-motif tersebut berkaitan dengan suatu harapan.
Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta. Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan perekonomian Belanda.
Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing. Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.

Batik Motif Khas Jawa Tengah (Solo & Yogyakarta)
            Dari kerjaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitamya abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
            Motif-motif batik Yogya-Solo dan filosofinya antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Truntum/trutul
Motif ini melambangkan cinta yang bersemi kembali. Dalam pemakaianya motif ini melambangkan orang tua yang menuntun anaknya dalam upacara pernikahan sebagai pintu menjalankan kehidupan baru yaitu kehidupan rumah tangga yang sarat godaan. Diharapkan motif ini akan menjadikan kehidupan pernikahan menjadi langgeng diwarnai kasih sayang yang selalu bersemi. Kegunaan batik Truntum/trutul: Untuk orang tua pengantin pada waktu upacara panggih. Filosofi batik Truntum: Truntum berarti menuntun, sebagai orang tua berkewajiban menuntun kedua mempelai memasuki hidup baru atau berumah tangga yang banyak liku-likunya.
2.      Wahyu Tumurun
Filosofi Wahyu Tumurun : Wahyu berarti anugerah, temurun berarti turun, dengan menggunakan kain ini diharapkan mendapatkan anugerah dari yang Maha Kuasa berupa kehidupan yang bahagia dan sejahtera serta mendapat petunjukNya.
3.      Sido Luhur
Motif Sida Luhur (dibaca Sido Luhur) bermakna harapan untuk mencapai kedudukan yang tinggi, dan dapat menjadi panutan masyarakat. Bagi orang Jawa, hidup memang untuk mencari keluhuran materi dan non materi. Keluhuran materi artinya bisa tercukupi segala kebutuhan ragawi dengan bekerja keras sesuai dengan jabatan, pangkat, derajat, maupun profesinya. Sementara keluhuran budi, ucapan, dan tindakan adalah bentuk keluhuran non materi. Orang yang bisa dipercaya oleh orang lain, atau perkataannya sangat bermanfaat kepada orang lain tentu itu akan lebih baik daripada perkataannya tidak bisa dipegang orang lain dan tidak dipercaya orang lain. Orang yang sudah bisa dipercaya oleh orang lain adalah suatu bentuk keluhuran non materi. Orang Jawa sangat berharap hidupnya kelak dapat mencapai hidup yang penuh dengan nilai keluhuran.
4.      Sido Mukti
Motif-motif berawalan sida (dibaca sido) merupakan golongan motif yang banyak dibuat para pembatik. Kata “sida” sendiri berarti jadi/ menjadi/terlaksana. Dengan demikian, motif-motif berawalan “sida” mengandung harapan agar apa yang diinginkan bisa tercapai. Salah satunya adalah sida mukti, yang mengandung harapan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin.
5.      Buntal
Filosofi batik dengan motif buntal adalah semangat persatuan dan kesatuan. Karena dahulu merupakan jaman perang melawan penjajah, pesan yang ingin disampaikan dalam motif ini adalah kuatkan barisan jangan sampai tercerai berai. Selalu komunikasi antar kelompok satu dengan yang lainnya.

6.      Parang Barong
Ada juga yang memaknai  bahwa motif batik ini berasal dari kata “batu karang” dan “barong” (singa). Parang Barong merupakan parang yang paling besar dan agung, dan karena kesakralan filosofinya motif ini hanya boleh digunakan untuk Raja, terutama dikenakan pada saat ritual keagamaan dan meditasi. Ada juga yang memaknai bahwa parang berasal dari senjata seperti golok panjang.
Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Motif Parang Rusak Barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri. Motif ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.
7.      Parang Rusak
Selain parang barong, jenis motif parang lainnya adalah Parang Rusak. Motif ini hanya digunakan oleh para bangsawan pada masa dahulu untuk upacara-upacara kenegaraan di lingkungan kraton. Motif ini sampai sekarang masih tetap terjaga. Pada jaman dahulu, Parang Rusak biasanya digunakan prajurit setelah perang, untuk memberitahu Raja bahwa mereka telah memenangkan peperangan. Menurut Koeswadji, sesuai dengan arti kata, Parang Rusak mempunyai arti perang atau menyingkirkan segala yang rusak, atau melawan segala macam godaan. Motif ini mengajarkan agar sebagai manusia mempunyai watak dan perilaku yang berbudi luhur sehingga dapat mengendalikan segala godaan dan nafsu.


*) dalam rangka memenuhi tugas komunikasi tradisional di smt 5

Kamis, 19 Januari 2012

Teori Negosiasi Muka

Oleh: Innas Rizky Afria

 
Teori Negosiasi muka adalah satu dari sedikit yang secara eksplisit mengakui bahwa orang dari budaya yang berbeda memiliki bermacam pemikiran mengenai “muka” orang lain. Pemikiran ini menyebabkan mereka menghadapi konflik dengan cara yang berbeda. Karena muka merupakan perpanjangan dari konsep diri seseorang, muka telah menjadi fokus dari banyak penelitian di dalam beberapa bidang ilmu.

Asumsi Teori Negosiasi Muka

1.    Identitas diri penting di dalam interaksi interpersonal, dan individu-individu menegosiasikan identitas mereka secara berbeda dalam budaya yang berbeda.
Asumsi yang pertama menekankan pada identitas diri ( self-identity), atau cirri pribadi atau atribut karakter seseorang. Identitas diri mencakup pengalaman kolektif seseorang, pemikiran, ide, memori, dan rencana (West & Turner, 2006 ). Identitas diri orang tidak bersifat stagnan, memalinkan dinegosiasikian dalam interaksi dengan orang lain. Melekat dengan asumsi pertama ini adalah keyakinan bahwa para individu di dalam sebuah budaya memiliki beberapa citra diri yang berbeda dan bahwa meraka menegosiasikan citra ini secara terus menerus. Ting-Toomey (1993 ) menyatakan bahwa rasa akan diri seseorang merupaka hal yang sadar atau tidak sadar. Maksudnya, dalam banyak buadaya yang berbeda, orang-orang membawa citra yang mereka presentasikan kepada orang lain secara kebiasaan atau strategis. Ting-Toomey percaya bahwa bagaimana kita memersepsikan rasa akan diri kita dan bagaimana kita ingin orang lain untuk memersepsikan kita merupakan hal yang sangat penting dalam pengalaman komunikasi kita.
 
2.    Manajemen konflik dimediasi oleh muka dan budaya
 
Asumsi kedua dari Teori Negosiasi Muka berkaitan dengan konflik, yang merupakan komponen utama dari Teori ini. Konflik dalam Teori ini, bekerja sama dengan muka dan budaya. Bagi Ting-Toomey (1994), konflik dapat merusak muka sosial seseorang dan dapat mengurangin kedekatan hubungan antara dua orang. Sebagai mana ia menyatakan bahwa konflik adalah “ forum “ bagi kehilangan muka dan penghinaan terhadap muka.
 
3.    Tindakan-tindakan tertentu mengancam citra diri seseorang yang ditampilkan
 
Asumsi ketiga dari Teori Negosiasi Muka berkaitan dengan dampak yang dapat diakibatkan oleh suatu tindakan terhadap muka. Ting-Toomey dan Mark Cole (1990) jika pencitraan diri kita terancam ada dua proses untuk memperbaiki citra tersebut:
•    Penyelamatan Muka (face-saving), yaitu mencakup usaha – usaha untuk mencegah peristiwa yang dapat menimbulkan kerentanan atau merusak citra seseorang. Penyelamatan wajah sering kali tidak memperdulikan rasa malu.
•    Pemulihan Muka (face restoration), yaitu strategi yang digunakan untuk mempertahankan otonomi dan menghindari kehilangan muka. Pemulihan muka dilakukan setelah terjadi kehilangan muka. Ting-Toomey dan 
Cole mengamati bahwa orang berusaha untuk memulihkan muka dalam rangka merespon suatu peristiwa. 


Teori Kelompok Bungkam (Muted Group Theory)

Oleh: Innas Rizky Afria


Teori kelompok bungkam menjelaskan bahwa wanita berusaha menggunakan bahasa yang diciptakan oleh pria untuk mendeskripsikan pengalaman mereka dalam cara yang sama seperti halnya ketika seorang penutur asli bahasa inggris belajar bercakap-cakap dalam bahasa Spanyol.
Tetapi, tidak semua wanita bungkam dan semua pria memiliki suara. Teori kelompok bungkam memungkinkan kita untuk memahami kelompok mana pun yang dibungkam karena tidak memadainya bahasa mereka. Selain itu, pembungkaman dapat terjadi sebagai hasil dari ketidakpopuleran pandangan yang berusaha untuk diungkapkan seseorang.
Pencetus Teori: Edwin Ardener dan Shirley Ardener yang merupakan seorang antropolog sosial.
Latar Belakang Pemikiran
Edwin Ardener dan Shirley Ardener melakukan penelitian berkaitan dengan struktur dan hierarki sosial. Pada tahun 1975, Edwin Ardener mengatakan bahwa kelompok yang menyusun bagian teratas dari hierarki sosial menentukan sistem komunikasi bagi budaya tersebut. Kelompok dengan kekuasaan lebih rendah seperti wanita, kaum miskin, dan orang kulit berwarna, harus belajar untuk bekerja dalam sistem komunikasi yang telah dikembangkan oleh kelompok dominan. Dengan mengubah generalisasi ini ke dalam kasus tertentu mengenai wanita di dalam budaya. Edwin Ardener menyatakan, “Mereka yang terlatih dalam bidang etnografi jelas-jelas memilih bias terhadap jenis model yang para pria siap diberikan (atau disetujui) oleh para pria dibandingkan terhadap model mana pun yang dapat diberikan wanita. Jika pria tampak lebih pandai bicara dibandingkan wanita, ini merupakan kasus dari orang-orang yang sama berbicara mengenai hal yang sama.”
Selain itu, Shirley Ardener mengamati bahwa kebungkaman wanita merupakan pasangan dari ketulian pria. Karenannya, ia menjelaskan bahwa wanita (atau anggota dari kelompok bawah mana pun) memang berbicara, tetapi kata-kata mereka berjatuhan pada telinga yang tuli (tidak mau mendengarkan), dan ketika ini terjadi sejalan dengan waktu, mereka cenderung berhenti mencoba untuk mengemukakan pendapat mereka, dan bahkan mereka mulai berhenti untuk memikirkannya.
Bagi Edwin, kelompok yang bungkam dianggap tidak pandai berbicara oleh sistem bahasa kelompok yang dominan, yang tumbuh secara langsung dari pandangan terhadap dunia dan pengalaman mereka.

Bagi kelompok bungkam, apa yang mereka katakan pertama kali harus bergeser dari pandangan mereka sendiri terhadap dunia dan kemudian diperbandingkan dengan pengalaman-pengalaman dari kelompok yang dominan. Karenanya, artikulasi bagi kelompok bungkam merupakan hal yang tidak langsung dan rusak.
Asumsi Dasar
•    Wanita mempersepsikan dunia secara berbeda dibandingkan pria karena pengalaman pria dan wanita yang berbeda serta adanya kegiatan-kegiatan yang berakar pada pembagian pekerjaan.
•    Karena dominasi politik mereka, sistem persepsi pria dominan, menghambat ekspresi bebas dari model alternatif wanita mengenai dunia.
•    Agar dapat berpartisipasi di masyarakat, wanita harus mentransformasi model mereka sendiri sesuai dengan sistem ekspresi pria yang diterima.
Kelemahan teori dan kritik
Teori kelompok bungkam telah dikritik karena tidak memiliki kegunann karena teori ini terlibat dalam esensialisme, atau keyakinan bahwa semua pria pada esensinya adalah sama dan semua wanita pada esensinya adalah sama dan keduannya berbeda satu sama lain.
Tidak terlalu banyak kajian yang telah menggunakan teori kelompok bungkam sebagai kerangka, dan sedikit yang menggunakannya sering kali tidak menghasilkan dukungan empiris. Kritikus menyatakan bahwa teori ini harus dibuang karena asumsi-asumsinya yang kuno tidak divalidasi secara empiris.
Teori kelompok bungkam adalah teori yang provokatif dan menyebabkan kita berpikir dalam bias bahasa. Teori ini juga memberikan penerangan pada apa yang kita terima dan kita tolak dari pembicara. Selain itu, teori ini juga menjelaskan beberapa permasalahan yang dialami wanita dalam berbicara di berbagai latar. Terserah kepada kita untuk memutuskan apakah isu-isu ini membentuk bias yang sistematis terhadap kelompok bawahan dan mendukung kelompok dominan, sebagaimana dinyatakan teori kelompok bungkam.


Sabtu, 15 Oktober 2011

Teori Uses And Gratification



Teori ini mempertimbangkan apa yang dilakukan orang pada media, yaitu menggunakan media untuk pemuas kebutuhannya. Penganut teori ini meyakini bahwa individu sebagai mahluk supra-rasional dan sangat selektif. Menurut para pendirinya, Elihu Katz;Jay G. Blumler; dan Michael Gurevitch (dalam Jalaluddin Rakhmat, 1984), uses and gratifications meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain , yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (atau keterlibatan pada kegiatan lain), dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat-akibat lain.
Elihu Katz;Jay G. Blumler; dan Michael Gurevitch (dalam Baran dan Davis, 2000) menguraikan lima elemen atau asumsi-asumsi dasar dari Uses and Gratification Media sebagai berikut:
1. Audiens adalah aktif, dan penggunaan media berorientasi pada tujuan.
2. Inisiative yang menghubungkan antara kebutuhan kepuasan dan pilihan media spesifik terletak di tangan audiens
3. Media bersaing dengan sumber-sumber lain dalam upaya memuaskan kebutuhan audiens
4. Orang-orang mempunyai kesadaran-diri yang memadai berkenaan penggunaan media, kepentingan dan motivasinya yang menjadi bukti bagi peneliti tentang gambaran keakuratan penggunaan itu.
5. Nilai pertimbangan seputar keperluan audiens tentang media spesifik atau isi harus dibentuk.



Penerapan Teori Uses And Gratification

Situs Internet Jejaring Sosial
            Internet sebagai salah satu media komunikasi yang baru berkembang memberikan lebih banyak pilihan bagi para penggunanya, sehingga pengguna internet dapat lebih memfokuskan pencarian pada apa yang benar-benar mereka inginkan. Sehingga menjadikan Internet berkembang dengan sangat pesat.
Situs jejaring sosial (bahasa Inggris: Social network sites) merupakan sebuah web berbasis pelayanan yang memungkinkan penggunanya untuk membuat profil, melihat list pengguna yang tersedia, serta mengundang atau menerima teman untuk bergabung dalam situs tersebut.Tampilan dasar situs jejaring sosial ini menampilkan halaman profil pengguna, yang di dalamnya terdiri dari identitas diri dan foto pengguna. Situs ini memiliki aplikasi untuk membuat profil, menambah teman, dan mengirim pesan.
Saat ini internet sangat berkembang. Bukan hanya peminatnya saja, tetapi juga apa yang mereka cari dan apa yang mereka lakukan saat mengakses internet. Seperti mencari teman pada jejaring sosial, contohnya facebook, twitter, friendster, dan lain sebagainya. Selain itu, kebanyakan pengguna situs jejaring sosial adalah remaja. Karena pada saat itulah, mereka sedang mencari jati diri melalui mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya. Namun, tidak sedikit pula orang-orang dewasa bahkan anak kecil menggunakan situs ini. Jadi situs jejaring sosial sebenarnya tidak mengenal usia.
Di Indonesia, situs jejaring sosial sangat pesat perkembangannya. Masyarakat banyak menggunakan media ini karena menurut mereka situs ini merupakan media yang dapat memenuhi kebutuhan, memberikan servis atau gratifikasi terhadap tujuan yang akan dicapai. Masyarakat secara aktif memilih media yang akan mereka pakai. Pemirsa dilihat sebagai individu aktif dan memiliki tujuan, mereka bertanggung jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhinya. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kebutuhan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka. Asumsi ini merupakan asumsi dari Teori Uses and Gratification (Teori Penggunaan dan Pemenuh Kebutuhan).

Rabu, 05 Oktober 2011

Komunikasi Massa

Oleh: Innas Rizky Afria  

Keberadaan sebuah media massa pada perkembangan zaman ini juga ternyata tak hanya sebagai pemberitaan semata, bahkan telah menjadi semacam gaya hidup tersendiri. Maka tak heran jika kemudian, media massa yang juga sebagai alat komunikasi massa menjadi sasaran empuk untuk mendongkrak pencitraaan baik lembaga atau individu. Yang terjadi kemudian, dalam kasus politik, antara satu media dengan media lain kerap kali terasa menampilkan sosok politik yang sejatinya berada di belakang sebuah perusahaan media. Itu sudah menjadi rahasia umum. Namun yang perlu diperhatikan adalah, bagaimana sebenarnyateori komunikasi massa sehingga dampaknya sangat terasa sekali bagi kita yang kritis pada persoalan media yang sejatinya sangat mempengaruhi kebijakan, perilaku, serta opini publik. 

Sebagaimana dalam teori komunikasi massa dikenal istilah teori pengaruh kebiasaan, pengharapan nilai, dan juga teori ketergantungan. Komunikasi Massa (Mass Communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (Surat Kabar, Majalah) atau elektronik (radio, televisi) yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar dibanyak tempat. 

Terkait pengertian komunikasi massa, maka dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak seperti surat kabar dan majalah, atau juga menggunakan media elektronik seperti halnya radio, televisi, dan internet, yang pada pergerakannya dikelola lembaga atau orang yang diinstitusikan, yang ditujukan pada banyak orang dan di banyak tempat juga. Dalam kajian ilmu komunikasi, ada beberapa teori yang membahas dan terkait dengan komunikasi massa ini, yaitu:

1. Teori Pengaruh kebiasaan/tradisi (the effect tradition)
2. Uses dan Gratifications
3. Teori Pengharapan Nilai (the expectacy-value theory)
4. Teori Ketergantungan (dependency theory).

Kamis, 02 Juni 2011

ANALISIS FENOMENA KOMUNIKASI ANTARMAHASISWA

 Oleh : Innas Rizky Afria *)


Pengamatan tentang peristiwa komunikasi dalam peristiwa komunikasi antarmahasiswa di lingkungan kampus, khususnya di universitas jenderal soedirman dilatar belakangi oleh adanya fenomena pemakaian bahasa yang berbeda antara komunikator dan komunikan. Adapun tujuan pengamatan yang dilakukan adalah untuk mendeskripsikan contoh peristiwa komunikasi antarmahasiswa yang berasal dari berbagai macam daerah, menganalisis komponen-komponen komunikasi beserta unsurnya dalam peristiwa komunikasi dan untuk memenuhi tugas mata kuliah pengantar ilmu komunikasi.

Komunikasi merupakan hal yang paling penting untuk mahasiswa agar dapat beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Komunikasi adalah suatu proses, dan merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan. Komunikasi terjadi karena upaya yang disengaja dan punya tujuan atau dalam keadaan sadar. Hal yang dibicarakan dalam komunikasi antarmahasiswa ini meliputi apa saja, dari perkenalan, tugas kuliah, dan lain sebagainya. Ini bisa terjadi di mana saja, tapi lebih seringnya terjadi di lingkungan kampus. Proses komunikasi yang baik biasanya ada frame of reference(kerangka acuan) atau bisa disebut overlaping of interest/kesamaan minat. Salah satu latar belakang frame of reference adalah budaya. Otomatis, kita harus menyesuaikan dengan budaya lawan bicara kita. Dalam pengamatan yang telah dilakukan, komunikasi   yang terjadi antarmahasiswa sering terhambat karena perbedaan bahasa yang digunakan dan terkadang si komunikan tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh komunikator sehingga tidak ada kesamaan makna. Padahal pengertian komunikasi yang bersifat dasariah memaparkan bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Sebagai contoh yang paling mencolok adalah bahasa sunda dan bahasa jawa, jika memperhatikan mahasiswa asal jawa dan mahasiswa asal sunda sedang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa campuran (indonesia-jawa, indonesia-sunda) kita akan menemukan hal-hal yang menarik. Kadang ditemukan kosa kata yang sama tetapi berbeda arti, atau kosa kata yang sama tetapi memiliki makna yang berbeda. Ini hanya sebagian contoh kecil yang masih sama-sama bangsa Indonesia dan mungkin bisa diatasi dengan menggunakan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia atau terpaksanya dapat menggunakan kial/gesture, isyarat serta gambar yang merupakan media komunikasi primer walaupun cara ini juga sangat terbatas karena hanya bisa mengkomunikasikan hal-hal tertentu, tapi yang penting komunikasi tetap dapat berjalan dengan baik. Contoh lain yang lebih luas adalah  komunikasi yang berbeda bangsa, mereka akan mengalami hambatan-hambatan yang jauh lebih berat jika tidak mengerti bahasanya, mungkin akan bisa teratasi jika komunikasi yang terjadi adalah face to face atau tatap muka yang termasuk komunikasi secara primer. Cara-cara mengatasi nya juga dapat dengan kial/gesture, isyarat, gambar, lambang, dsb. Komunikasi yang baik juga harus ada feed back atau umpan balik. Umpan balik ini dapat dilakukan secara verbal maupun non verbal. Agar komunikasi berhasil walaupun ada hambatan atau gangguan (noise), komunikator  harus selalu memperhatikan umpan balik, sehingga ia dapat segera merubah gaya komunikasinya ketika ia mengetahui umpan balik dari komunikan bersifat negatif. Contoh peristiwa komunikasi antarmahasiswa ini menitikberatkan pada fungsi komunikasi sosial, yaitu komunikasi penting membangun konsep diri kita, aktualisasi, dan terhindar dari tekanan. Pernyataan aktualisasi diri merupakan pernyataan eksistensi diri, menunjukkan bahwa kita sebenarnya kita ada.  Fenomena komunikasi antarmahasiswa ini juga mengandung fungsi komunikasi ekspresif, komunikasi yang menjadi instrumen untuk manyampaikan perasaan-perasaan(emosi kita) melalui pesan-pesan non verbal.

  • Kesimpulan

Komunikasi merupakan hal yang paling penting untuk mahasiswa agar dapat beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Komunikasi adalah suatu proses, dan merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan.   Dalam pengamatan yang telah dilakukan, komunikasi   yang terjadi antarmahasiswa sering terhambat karena perbedaan bahasa yang digunakan dan terkadang si komunikan tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh komunikator sehingga tidak ada kesamaan makna.

Cara mengatasi hambatan-hambatan yang ada dapat menggunakan kial/gesture, isyarat serta gambar yang merupakan media komunikasi primer walaupun cara ini juga sangat terbatas karena hanya bisa mengkomunikasikan hal-hal tertentu, tetapi yang penting komunikasi tetap dapat berjalan dengan baik. Seorang komunikator  harus selalu memperhatikan umpan balik, sehingga ia dapat segera merubah gaya komunikasinya ketika ia mengetahui umpan balik dari komunikan bersifat negatif. Contoh peristiwa komunikasi antarmahasiswa ini menitikberatkan pada fungsi komunikasi sosial, yaitu komunikasi penting membangun konsep diri kita, aktualisasi, dan terhindar dari tekanan.

*) disusun untuk memenuhi tugas pengantar ilmu komunikasi/2010

CYBERSPACE


SEKILAS TENTANG CYBERSPACE
Oleh: Innas Rizky Afria *)

Indonesia tercatat sebagai negara berkembang di Asia Tenggara dengan pertumbuhan penggunaan teknologi informasi yang terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Namun sayang, penggunaan mobile internet di Indonesia masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya konsumtif. Ini dapat dilihat dari peringkat situs yang paling sering diakses oleh para penggunanya di Indonesia. Peringkat pertama adalah facebook, hal ini dirasa wajar karena Indonesia kini telah menjadi negara ke-3 di dunia yang paling banyak menggunakan layanan facebook. Sementara situs berita dan situs pencarian Google masih berada beberapa peringkat dibawahnya. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa pengguna mobile internet di Indonesia akan memperluas fungsi dan penggunaan dari mobile internet ini untuk hal-hal yang sifatnya lebih produktif. Sebagai contoh, pengguna mobile internet mulai sering memanfaatkan internet untuk mengakses situs berita, menulis di blog, dan aktif dalam forum.
Perkembangan teknologi informasi telah menciptakan sebuah “ruang baru” yang bersifat artifisial dan maya, yaitu cyberspace. Ruang baru ini telah mengalihkan berbagai aktivitas manusia (politik, sosial, ekonomi, kultural, spiritual, bahkan seksual) dari dunia nyata ke dunia maya yang dikenal dengan dunia tanpa batas. Sehingga apapun yang dapat dilakukan di dunia  nyata, kini dapat juga dilakukan dalam bentuk artifisialnya dalam cyberspace. Sebuah migrasi besar-besaran kehidupan manusia tampaknya tengah berlangsung, yaitu migrasi dari jagat nyata ke jagat maya dari kehidupan di ruang nyata menuju kehidupan di ruang maya. Migrasi kemanusiaan ini telah menimbulkan perubahan besar dalam cara setiap orang menjalani dan memaknai kehidupan. Cyberspace menciptakan sebuah kehidupan yang mungkin nantinya sebagian besar akan dibangun seluruhnya oleh model kehidupan yang dimediasi secara mendasar oleh teknologi, sehingga berbagai fungsi alam kini diambil alih oleh subtitusi teknologisnya, yang disebut kehidupan artifisial.
            Realitas-realitas sosial budaya yang ada di dunia nyata kini mendapatkan tandingan-tandingannya. Pada akhirnya, batas antara keduanyamenjadi kian kabur. Cyberspace yang terbentuk oleh jaringan komputer dan informasi yang terhubungkan secara global telah menawarkan bentuk-bentuk komunitasnya sendiri (virtual community), bentuk realitasnya (virtual reality), dan bentuk “ruang” nya sendiri (cyeberspace).
            Cyberspace berasal dari bahasa Yunani, asal katanya adalah kubernan yang berarti ruang maya tanpa batas, imajinatif dan dapat dihayati melalui perwujudan virtual. Cyberspace merupakan ruang yang diwujudkan melalui (jaringan) computer, sifatnya digital dan direpresentasikan dalam satuan bit. Menurut Howard Rheingold, cyberspace merupakan sebuah ruang imajiner, yang di dalamnya setiap orang dapat melakukan apa saja yang bisa dilakukan dalam kehidupan sosial sehari-hari dengan cara baru, yaitu dengan cara artifisial. Cara artifisial adalah cara yang mengandalkan peran teknologi, khususnya teknologi komputer dan informasi dalam mendefinisikan realitas. Kegitan-kegiatan yang biasa dilakukan dalam cyberspace antara lain dapat berupa bersenda gurau, berdebat, berdiskusi, pertengkaran, protes, kritik, bermain, bahkan menciptakan karya seni.
            Perkembangan cyberspace telah mempengaruhi kehidupan sosial pada berbagai tingkatannya. Keberadaan cyberspace tidak saja telah menciptakan perubahan sosial yang sangat mendasar. Pengaruh cyberspace terhadap kehidupan sosial setidaknya tampak pada tiga tingkat : individu, antarindividu, dan komunitas.
            Pada tingkat individu, cyberspace menciptakan perubahan mendasar dalam pemahaman kita tentang diri dan identitas. Struktur cyberspace membuka ruang yang lebar bagi setiap orang untuk secara artifisial menciptakan konsep tentang diri dan identitas. Kekacauan identitas akan mempengaruhi persepsi, pikiran, personalitas, dan gaya hidup setiap orang. Bila setiap orang bisa menjadi siapapun, sama artinya semua orang bisa menjadi beberapa orang yang berbeda pada saat yang sama.  Pada akhirnya yang ada dalam cyberspace adalah permainan identitas: identitas baru, identitas palsu, identitas ganda, identitas jamak.
            Tingkat interaksi antarindividu, hakikat cyberspace sebagai sebagai dunia yang terbentuk oleh jaringan (web) dan hubungan (connection) bukan oleh materi. Kesalingterhubungan dan kesalingbergantungan secara virtual merupakan ciri dari cyberspace. Karena hubungan, relasi, dan interaksi sosial di dalam cyberspace bukanlah antarfisik dalam sebuah wilayah atau teritorial, yaitu interaksi  sosial yang tidak dilakukan dalam sebuah teritorial yang nyata.
            Pada tingkat komunitas, cyberspace dapat menciptakan satu model komunitas demokratis dan terbuka. Karena komunitas virtual dibangun bukan di dalam teritorial yang konkret, maka persoalan didalamnya adalah persoalan normatif, pengaturan, dan kontrol. Dalam komunitas virtual cyberspace, pemimpin, aturan main, kontrol sosial tersebut tidak berbentuk lembaga, sehingga keberadaannya sangat lemah. Jadi, di dalamnya, seakan-akan “apa pun boleh”.


PENCITRAAN DIRI DALAM CYBERSPACE

            Cyberspace telah membentangkan sebuah persoalan mendasar tentang dunia kehidupan. Apakah bentuk keber-ada-an cyberspace? Apakah ia sama dengan “ada” di dalam kehidupan nyata sehari-hari?
            Dunia kehidupan adalah sebuah dunia yang kompleks, yang melibatkan berbagai model kesadaran, pengalaman, dan persepsi. Cyberspace adalah dunia yang dimasuki manusia dengan kesadaran, tetapi ia berbeda dengan dunia harian yang merupakan dunia yang dibangun berdasarkan kesadaran atas obyak-obyak nyata.
            Cyberspace menciptakan perubahan mendasar dalam pemahaman kita tentang diri dan identitas. Struktur cyberspace membuka ruang yang lebar bagi setiap orang untuk secara artifisial menciptakan konsep tentang diri dan identitas. Hal ini membuat konsep diri dan identitas didalamnya menjadi sebuah konsep yang tanpa makna. Artinya jika setiap orang dapat menciptakan berbagai identitas dirinya secara tak terbatas, maka hakikat identitas itu tidak ada lagi. Jika setiap orang bisa menjadi setiap orang lainnya, maka kita menghadapi sebuah kondisi matinya perbedaan. Berarti, mati pula identitas. Kekacauan identitas akan mempengaruhi persepsi, pikiran, personalitas, dan gaya hidup setiap orang. Bila setiap orang bisa menjadi siapapun, sama artinya semua orang bisa menjadi beberapa orang yang berbeda pada saat yang sama.  Pada akhirnya yang ada dalam cyberspace adalah permainan identitas: identitas baru, identitas palsu, identitas ganda, identitas jamak.
            Menurut penulis, pencitraan seseorang melalui dunia maya atau cyberspace dapat  menggunakan tampilan-tampilan maupun lay out yang bersifat artifisial baik pada website, blog, maupun bentuk ruang-ruang dalam dunia maya lainnya yang biasa digunakan oleh penggguna cyberspace tersebut. Namun, penulis lebih menitikberatkan sebuah pencitraan dalam bentuk tulisan, ide, gagasan, maupun kreasi yang dituangkan di dalam ruang cyber. Cara penulis mencitrakan dirinya dalam ruang cyber adalah dengan cara artifisial dan melalui tulisan-tulisan yang tertuang dalam blog, facebook, twitter, dan dalam ruang-ruang cyber lainnya. Penulis mencitrakan dirinya bukan sebagai orang lain, tetapi sesuai dengan kepribadian asli penulis tersebut.




Referensi

Purbo, Ono. 2005. Jejaring Dunia Maya: Cyberspace dan Perubahan. Yogyakarta: BPPM-UGM Balairung

*) disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah teknologi komunikasi

Sabtu, 14 Mei 2011

Pencitraan melalui Iklan pada NOKIA


Pencitraan melalui Iklan pada "NOKIA"
Oleh : Innas Rizky Afria*

Berkembangnya teknologi komunikasi membawa dampak kemajuan dan perkembangan industri. Saat ini setiap orang dapat mengetahui segala macam informasi yang ingin diketahuinya tanpa harus beranjak dari tempatnya duduk. Media berupa audio, visual, maupun audio visual menjadi alat untuk mempromosikan barang atau jasa yang ditawarkan setiap industri atau perusahaan. Pencitraan mengenai produk maupun perusahaannya dapat dengan mudah dipromosikan atau diperkenalkan kepada konsumen atau khalayak umum.
Peran media  massa dalam teknologi informasi menurut para ahli perannya sangat besar karena media massa merupakan penyebab utama terjadi transformasi masyarakat menuju masyarakat informasi. Meskipun perkembangan teknologi komunikasi bisa mempengaruhi masyarakat, tetapi perkembangan teknologi tersebut juga ditentukan oleh proses-proses yang terjadi di dalam masyarakat, yang menimbulkan kebutuhan akan perkembangan teknologi.
Pencitraan sebagai alat untuk membentuk persepsi
Untuk dapat mengenalkan dan menyebarkan informasi mengenai suatu perusahaan dan produk, perlu sebuah public relation baik. Public relation suatu untuk menciptakan pengertian publik yang lebih baik, yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seseorang atau suatu organisasi/badan. Jadi public relation merupakan suatu kegiatan untuk menanamkan dan memperoleh pengertian goodwill, kepercayaan, penghargaan dari dan pada publik suatu badan khususnya masyarakat umumnya sebagai upaya membangun image/citra perusahaan agar lebih bagus baik itu di dalam maupun di luar. Citra adalah salah satu aset terpenting dari perusahaan atau organisasi. Citra yang baik merupakan perangkat yang kuat bukan hanya untuk menarik konsumen untuk memilih produk atau jasa perusahaan, melainkan juga memperbaiki dan kepuasan konsumen terhadap perusahaan.
Dalam buku wastu Catra dinyatakan bahwa jika mendirikan sesuatu harus diperhatikan dua lingkungan masalah, yaitu lingkungan masalah guna dan lingkungan masalah citra (Mangunwijaya, 1988 :25). Guna menunjukan pada keuntungan, pemanfaatan yang diperoleh, pelayanan yang diperoleh, dan lebih dari itu, punya daya untuk meningkatkan suatu kehidupan. Citra menunjukan pada suatu gambaran (image), suatu kesan penghayatan yang menangkap arti bagi seseorang. Citra memang tidak jauh dari guna namun lebih bertingkat spiritual, lebih menyangkut derajat dan martabat manusia didalamnya. Citra menunjukan tingkat kebudayaan, sedangkan guna lebih menuding pada segi keterampilan atau kemapuan.
Citra organisasi/lembaga mempunyai 2 (dua) komponen utama, yaitu komponen logika dan komponen emosional. Komponen logika berhubungan dengan karakterisitik-karakteristik yang dapat dirasakan, yang dapat dengan mudah diukur sedangkan komponen emosional diasosiasikan dengan dimensi psikologis yang ditunjukkan oleh perasaan dan sikap terhadap organisasi. Kedua komponen tersebut secara stimultan mempengaruhi pemikiran seseorang untuk menilai citra suatu organisasi.
Iklan sebagai sarana pencitraan
Pengertian pencitraan didalam suatu perusahaan tidak jauh berbeda dengan nilai-nilai dalam perusahaan yaitu perusahaan akan baik atau dapat dipercaya oleh investor apabila perusahaan dapat me-manage perusahaannya dengan baik. Apabila keadaan didalam perusahaan baik maka bukan tidak mungkin para investor akan percaya dengan perusahaan tersebut.
Proses pencitraan ini dapat dilakukan melalui iklan lewat media. Iklan merupakan bagian dari bauran promosi dan bauran promosi adalah bagian dari  bauran pemasaran. Jadi secara sederhana  iklan didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan  suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat  lewat suatu media (Rhenald , 1992).
Dalam perkembangan konsep pemasaran mutakhir konsumen ditempatkan sebagai sentral perhatian bagi perusahaan. Adu dua alasan mengapa konsumen sebagai titik sentral perhatian pemasaran. Pertama, sebagai titik sentral konsumen, perusahaan juga harus mempelajari apa yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen merupakan hal yang sangat penting. Untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan konsumen, maka aspek-aspek yang mempengaruhi konsumen secara individu seperti persepsi, cara memperoleh informasi, sikap, demografi, kepribadian dan gaya hidup konsumen perlu dianalisis. Selain juga dianalisis aspek lingkungan seperti budaya, kelas sosial, proses komunikasi, keluarga yang semuanya bisa mempengaruhi perilaku konsumen. Kedua, bagaimana perusahaan dapat mengomunikasikan produk kepada konsumen, sehingga konsumen mengetahui tentang produk tersebut.
Memahami perilaku konsumen harus selalu dilakukan sesuai dengan perkembangan teknologi informasi, tanpa kerangka yang jelas mereka tidak akan memberikan informasi yang akurat untuk membuat strategi pemasaran. Perusahaan dalam memasarkan produknya kepada konsumen dengan menggunakan stimulus-stilmulus pemasaran seperti iklan dan sejenisnya seperti promosi, hubungan masyarakat, publisitas, penjualan pribadi dan pemasaran langsung.
Iklan merupakan salah satu sarana untuk mempengaruhi massa juga merupakan alat komunikasi antara perusahaan dengan konsumen, konsumen perlu mengetahui apa saja keunggulan produknya dengan produk yang lain. Salah satu pemimpin pasar telepon seluler dunia Nokia dalam strategi pemasarannya selain menggunakan iklan sebagai promosi, salah satunya yaitu dengan mengamati pola perilaku konsumen dan menarik konsumen atau memberikan kemudahan dan tawaran kepada konsumennya dengan membentuk suatu komunitas yang disebut CLUB NOKIA. Komunitas ini dijadikan sebagai senjata oleh Nokia untuk mempertahankan dan meningkatkan penjualannya, dimana sesama pengguna Nokia dapat saling berinteraksi dan tentunya memperoleh sesuatu yang tidak bisa didapatkan oleh konsumen pengguna telepon seluler merek lain dan bisa juga menarik konsumen untuk memiliki telepon seluler Nokia dengan informasi dari komunitas ini.
Dalam proses mengomunikasikan produk ke pasar konsumen, sangat perlu diperhatikan oleh perusahaan yaitu slogan dan tema yang harus disampaikan seperti slogan iklan Nokia Connecting People. Persoalan ini penting karena berkaitan dengan perusahaan yang memposisikan produknya di mata konsumen.
Pembuatan iklan yang menggunakan slogan atau tema tertentu untuk mempersuasi konsumen. Pesan yang efektif dalam suatu iklan dan memberikan satu taraf ingatan terhadap nama produk atau merek. Jika seseorang mengatakan kesan pertama begitu menggoda”selanjutnya akan mengubah perilaku konsumen untuk membeli produk tersebut.
Perusahaan juga biasanya memasang tokoh yang berkompeten terhadap barang yang diiklankan seperti seorang artis. Misalnya seorang artis yang menjadi idola konsumen memakai produk yang diiklankan. Ketika iklan itu disampaikan kepada masyarakat atau konsumen, maka akan banyak konsumen langsung terpengaruh dan membeli produk itu dengan harapan produk yang dipakai oleh konsumen sama dengan tokoh atau artis yang menjadi idola konsumen.
Perusahaan telepon seluler yang memasarkan produknya dengan persaingan yang semakin sulit, sudah seharusnya memperhatikan perilaku dari target konsumen seperti yang dilakukan NOKIA seperti, gaya hidup, tingkat harga, kualitas produk, model dan lain sebagainya. Yang penting bagaimana perusahaan bisa memposisikan produk mereka di mata konsumen dan harus bisa dibedakan dengan produk lain yang sejenisnya.
Dalam pembuatan iklan, produsen bertindak sebagai sosok yang memiliki kekuatan yang luas biasa untuk menyuntikkan pesan-pesan yang terkadang penuh dengan tipuan dengan tujuan mendapatkan konsumen yang sebesar-banyaknya. Pesan yang masuk ke dalam diri konsumen hanya menggunakan satu langkah yaitu dengan menggunakan media langsung ke konsumen. Iklan yang dipasang di media, baik media cetak atau elektronik akan dengan mudah membius konsumen, jika konsumen lengah maka akan mudah terkecoh oleh iklan yang dipasang, kemudian secara langsung mengubah perilakunya sesuai dengan yang diharapkan oleh pengiklan dan perusahaan.
Iklan sebagai bagian dari promotion mix telah menjadi bagian telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di dunia. Dimana sejak kita bangun tidur telah diterpa produk iklan. Iklan memang sudah menjadi hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Pesan yang disampaikan melalui media memiliki kekuatan yang maha besar untuk membentuk perilaku, pandangan atau tindakan dari khalayaknya. Maka tak jarang produk yang laku di pasaran adalah produk yang kemasan iklannya bagus, slogannya mudah diingat, model iklannya terkenal, berhasil mempersuasi penonton dan intesitas yang cukup tinggi, sehingga masyarakat secara tidak sadar menelan mentah-mentah isi dari iklan tersebut tanpa mempertimbangan terlebih dahulu.
Periklanan diakui atau tidak sekarang telah menjadi bagian dari sebuah  sistem perekonomian. Karena perusahaan yang ingin mengiklankan produknya menggunakan biro iklan untuk membuat iklan dan media sebagai penyampai pesan iklan seperti surat kabar, televisi dan sebagainya. Sehingga semakin terbukanya pekerjaan yang lahir dari fenomena dari iklan.
Pada dasarnya periklanan adalah bagian dari kehidupan  industri modern dan hanya bisa ditemukan di negara-negara maju atau negara yang tengah mengalami perkembangan ekonomi secara pesat. Kehidupan dunia modern  kita saat ini sangat tergantung pada iklan, tanpa iklan produsen dan distributornya tidak akan dapat menjual barangnya, sedangkan disisi lain para pembeli tidak akan memiliki informasi yang memadai mengenai produk barang atau jasa yang tersedia di pasar. Jika itu terjadi  maka dunia industri dan perkonomian modern pasti akan lumpuh. Jika sebuah perusahaan mempertahankan tingkat keuntungan, maka ia harus melangsungkan kegiatan-kegiatan periklanan secara memadai dan terus menerus.
Sasaran periklanan  bisa  ditentukan berdasarkan klarifikasi apakah tujuan periklanan bermaksud menginformasikan, membujuk atau mengingatkan saja. Dengan tujuan informatif, berarti perusahaan harus merancang iklan sedemikian rupa agar hal-hal penting mengenai produk bisa disampaikan dalam pesan iklan. Iklan yang menonjolkan aspek manfaat produk biasanya dikategorikan sebagai iklan yang bersifat informatif.
Iklan membujuk biasanya membujuk konsumen dan berperan penting bagi perusahaan dengan tingkat persaingan tinggi. Di mana perusahaan mencoba menyakinkan konsumen bahwa merek yang ditawarkan adalah pilihan yang tepat. Iklan yang membujuk  biasanya dituangkan dalam pesan-pesan iklan perbandingan. Perusahaan berusaha membandingkan kelebihan produk yang ditawarkan dengan produk lain yang sejenis.
Sedangkan iklan mengingatkan digunakan untuk mengingatkan produk-produk yang sudah mapan. Banyak produk-produk yang dulu mapan dan menguasai pasar kini hilang karena tidak adanya iklan yang bersifat mengingatkan.
Dalam kasus pencitraaan perusahaan dan produk handphone Nokia, nampaknya memanfaatkan strategi pencitraan melalui iklan yang bersifat mengingatkan dengan slogan Nokia connecting people. Pihak perusahaan mencoba memberikan pemahaman dan mengingatkan akan arti penting alat komunikasi seperti telepon genggam. Perusahaan telepon seluler ini mencoba mengingatkan konsumen bahwa fungsi alat komunikasi adalah untuk menghubungkan antar sesama manusia. Kemudia ikon yang ditampilkan sebagai alat komunikasi itu adalah produk handphone merek Nokia. Dengan iklan pencitraan ini memberikan pemahaman pada masyarakat bahwa seolah-olah Nokia adalah satu-satunya alat komunikasi yang mampu menghubungkan antar sesama manusia.


Daftar Pustaka

Kasali, Rhenald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Pustaka Utama Grafiti. Jakarta.
Dowling, Grahamme, 2002, Creating Corporate reputations, identity, Image, and
Performance,Oxford University Press Inc terjemahan Walujo Djoko Indarto.


*disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah teknologi komunikasi

Sabtu, 09 April 2011

KARANG TARUNA SEBAGAI ORGANISASI KEPEMUDAAN ALTERNATIF

 Innas Rizky Afria
F1C010022


KARANG TARUNA SEBAGAI ORGANISASI KEPEMUDAAN ALTERNATIF



A.    Latar Belakang
            Pemuda merupakan salah satu unsur penting dalam pembangunan, mengingat pemuda merupakan kategori usia produktif yang bisa diproyeksikan menjadi calon pemimpin bangsa di kemudian hari. Pemuda juga merupakan sasaran pembangunan terutama di bidang pendidikan dan penguasaan teknologi yang diharapkan mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.
            Pembinaan generasi muda dilakukan secara berkelanjutan baik melalui pendidikan maupun pembinaan rohani, mengingat usia generasi muda tersebut seringkali disebut sebagai usia rawan terhadap pengaruh negatif sehingga diperlukan pembinaan intensif dengan penyaluran pada kegiatan-kegiatan positif yang bersifat mengembangkan kreatifitas, menambah wawasan dan sesuai dengan usianya.
            Dalam melakukan pembinaan generasi muda, diperlukan wadah yang mampu mengakomodir semangat generasi muda sekaligus menjadi tempat pengembangan kreatifitas dan ajang menambah pengetahuan dan ketrampilan. Karang taruna selama ini menjadi wadah bagi para pemuda terutama di pedesaan untuk melakukan aktifitas kepemudaan dan berbagai kegiatan kemasyarakatan termasuk membantu kegiatan masyarakat desa pada umumnya. Untuk itu diperlukan pola pembinaan karang taruna yang komprehensif agar mampu meningkatkan kapasitas dan daya saing desa untuk menghadapi arus perubahan jaman.



B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka dapat dirumuskan permasalahnnya adalah bagaimana memberdayakan atau meningkatkan kualitas Karang Taruna sebagai organisasi pemuda di tingkat desa?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana upaya untuk memberdayakan atau meningkatkan kualitas karang taruna sebagai organisasi pemuda di tingat desa.

D.    Pembahasan
Begitu pentingnya aspek kepemudaan di daerah pedesaan, maka Karang Taruna sebagai wadah pemuda diperlukan untuk pengorganisasian. Organisasi Karang Taruna dapat menjadi bagian infra struktur sosial di pedesaan/kelurahan.
Sebagai infra struktur sosial, maka seharusnya posisi Karang Taruna dapat dianggap sebagai partner Pemerintah untuk mengembangkan pembangunan pedesaan. Infra struktur sosial mempunyai misi membawakan aspirasi masyarakat untuk menyuarakan pembangunan pedesaan. Suara pembangunan pedesaan akan semakin padu dan bulat manakala peranan pemerintah (supra struktur) dan Karang Taruna sebagai infra struktur sosial seiring seirama jalannya.
Pada dasarnya demokrasi yang berkembang di pedesaan telah memiliki formatnya sendiri, sehingga sulit diseragamkan dengan demokrasi yang berkembang pada tingkat nasional. Menurut Arif dkk (2007: 65), demokrasi yang telah ada di tingkat lokal adalah sebuah bentuk demokrasi komunitarian yang memaknai demokrasi secara partikularistik dengan memperhatikan keragaman budaya, struktur sosial, sistem ekonomi dan sejarah tiap Negara.
Demokrasi komunitarian yang telah berkembang pada tingkat lokal ini mampu melibatkan semua elemen yang ada dalam masyarakat tersebut. Elemen-elemen yang ada itu termasuk di dalamnya adalah komunitas atau organisasi kepemudaan seperti karang taruna.
Untuk memperkuat demokrasi lokal, dituntut addanya penguatan elemen atau infra struktur sosial seperti halnya karang taruna. Karang taruna harus memiliki peran yang besar dalam mewujudkan demokrasi lokal. Oleh karena itu diperlukan upaya penguatan organisasi karang taruna. 
Profesionalisme Karang Taruna (KT) sangat dituntut sebagai organisasi Infra struktur sosial karena peranan dan fungsinya sebagai pelayan pembangunan dianggap sangat strategis. Kiranya tidak menutup mata bahwa masih banyak kondisi Karang Taruna yang belum memenuhi persyaratan profesional.
Pada kenyataan, kualitas KT pada saat ini sebagian besar pada klasifikasi Karang Taruna tumbuh sebagian lagi berkembang. Oleh karena itu Pemerintah Daerah melalui Dispenduk di dalam fungsinya sebagai pembina teknis utama dan dinas/instansi lain sebagai pembina teknis, mempunyai kawajiban untuk meningkatkan secara terus menerus kualitas Karang Taruna. Upaya peningkatan kualitas Karang Taruna harus diimbangi oleh Karang Taruna dalam memotivasi untuk mengembangkan peranan dan fungsinya secara optimal. Adapun langkah yang harus ditempuh antara lain :
1.      Penataan manajemen organisasi.
2.      Menumbuhkan dan mengembangkan kader-kader profesional.
3.      Penguasaan teknologi pedesaan.
4.      Peningkatan dan pengembangan program kegiatan.

D.1. Penataan Manajemen Organisasi
Penataan manajemen organisasi sebagai langkah nyata untuk menjawab tantangan persoalan organisasi. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :
1.      konsolidasi organisasi,
2.      tatanan/mekanisme organisasi yang terarah pada pengembangan pokja (kelompok kerja),
3.      peningkatan koordinasi dan komunikasi,
4.      penataan administrasi yang lebih tertib.
Ruang lingkup penataan manajemen proses organisasi Karang Taruna hendaklah berjalan searah dengan pembangunan pedesaan, dimana tiap-tiap desa akan mempunyai karakter-karakter yang berbeda. Dengan demikian warna dan corak penataan manajemen Karang Taruna akan berbeda satu sama lainnya.

D.2. Menumbuhkan Dan Mengembangkan Kader Profesional Karang Taruna
Karang Taruna sebagai organisasi kepemudaan yang mempunyai fungsi pelayanan. Oleh sebab itu Karang Taruna mampu berpartisipasi secara aktif di dalam proses pembangunan pedesaan. Kondisi sosial yang diharapkan Karang Taruna mampu berfungsi sebagai perencana dan sekaligus sebagai pelaksana pembangunan pedesaan. Namun demikian didalam kenyataannya memang masih di jumpai banyak kendala dan tantangan yang dihadapi Karang Taruna yang antara lain :
1.      Kegiatan Karang Taruna yang masih bersifat rekreatif dan hanya sekedar pengisi waktu luang
2.      Kurangnya kader profesional
3.      Kurang tanggapnya sikap masyarakat terhadap pengembangan kualitas Karang Taruna;
4.      Keraguan Pemerintah Desa terrhadap potensi Karang Taruna sehingga sedikit diberi peluang pada peran pembangunan.
Semua kendala-kendala yang disebut diatas, memang merupakan tantangan bagi eksistensi Karang Taruna. Oleh sebab itu maka pembenahan diri Karang Taruna, khususnya pada anggotanya dituntut untuk selalu meningkatkan kadar kualitas diberbagai bidang didalam menghadapi kondisi sosial/yang berkembang.
Pada dasarnya, karrang taruna merupakan wadah alternatif bagi masayarakat desa dalam mengaktualisasi dan pengembangan diri pemuda untuk jadi pemimpin-pemimpin masa depan karena sesungguhnya bangsa ini memerlukan pemimpin yang berkualitas. Menurut Misman (2004: 9), Indonesia memerlukan pemimpin yang berkarakter kuat yang memiliki moralitas, berwibawa, visioner, jujur, profesionalisme, komunikatif, dan sustainability dalam membangun kualitas bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

D.3. Penguasaan Teknologi Pedesaan
Kemampuan dan penguasaan menerapkan teknologi pedesaan, yaitu teknologi sederhana yang dapat digunakan oleh setiap atau yang dapat digunakan secara secara langsung dalam proses pembangunan. Dengan demikian Karang Taruna tidak memerlukan teknologi tinggi untuk berperan aktif di dalam pembangunan.
Teknologi sederhana yang harus dikuasai Karang Taruna adalah teknologi yang mampu memadukan berbagai potensi di daerah pedesaan/kelurahan, antara lain :
1.      Penguasaan teknologi yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia, seperti misalnya penerapan usaha-usaha koperasi dan lain sebagainya
2.      Teknologi yang dapat mengembangkan potensi SDA seperti misalnya teknologi pengolahan lahan kering, pengolahan pasca panen dll
3.      Penguasaan teknologi terapan yang manfaatnya dirasakan secara langsung.
Dari gambaran-gambaran penguasaan teknologi yang dimaksud sebenarnya sangat berkaitan dengan isu yang sekarang sedang berkembang di tingkat pedesaan yaitu masalah perluasan lapangan kerja, masalah pengangguran, masalah urbanisasi yang tak terkendali dan masalah ketelantaran. Oleh sebab itu, maka penguasaan teknologi terapan hendaknya diukur manfaatnya untuk mangatasi dan mengantisipasi permasalahan-permasalahan diatas. Semakin tinggi tingkat kepekaan Karang Taruna terhadap permasalahan yang terjadi sangat tergantung pada penguasaan teknologi tersebut diatas.

D.4. Peningkatan dan Pengembangan Program Kegiatan
Yang dimaksud peningkatan dan pengembangan program kegiatan, adalah program yang banyak terkait dengan program pembangunan pedesaan. Sementara itu kita ketahui bahwa pembangunan pedesaan dari tahun ke tahun semakin berfariasi dan kompleks, terutama bila dikaitkan dengan pemecahan permasalahan-permasalahan pembangunan di pedesaan.
Upaya yang paling tepat yang harus dilaksanakan Karang Taruna adalah menyesuaikan program-programnya sesuai dengan bentuk dan warna program pembangunan pedesaan. Gambaran yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Desa, hendaknya tercermin juga pada program Karang Taruna. Oleh sebab itu diharapkan Karang Taruna aktif ke dalam proses perencanaan dan proses pelaksanaan pembangunan desa.
Keterlibatan Karang Taruna dalam proses pembangunan menuju desa Karang Taruna akan terlihat demi kegiatan-kegiatan Pokja-pokja yang dibentuk dan dikembangkan berdasarkan pada kepentingan-kepentingan pembangunan. Semakin luas Pokja yang dikembangkan semakin menunjukan Karang Taruna berperan aktif di dalam pembangunan.
Adapun Pokja-pokja tersebut bisa berfariasi sesuai dengan kebutuhan desa setempat. Demikian gambaran tentang upaya strategis yang dilaksanakan Karang Taruna pada pemberdayaan SDA & SDM di Pedesaan.

E.       Kesimpulan
            Penguatan karang taruna sebagai salah satu pelaku pembangunan di tingkat desa sangat membantu dalam peningkatan kapasitas desa dalam menghadapi tantanga globalisasi. Karang taruna yang mayoritas beranggotakan para pemuda yang masih memiliki semangat dan energi yang sangat tinggi harus mendapatkan pengelolaan yang baik. Pengelolaan tersebut tidak hanya pada managemen organisasinya, tetapi juga pada penguasaan teknologi serta  peningkatan partisipasi dalam pembangunan desa khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya.
            Peningkatan peran karang taruna dapat membantu melancarkan berjalannya program-program pembangunan di pedesaan terutama dalam bidang peningkatan kualitas masyarakat, generasi muda, kemampuan dan penguasaan teknologi serta pengelolaan organisasi serta program-program yang bersifat fisik. Dengan demikian keterlibatan secara aktif dan peningkatan kualitas karang taruna saat ini menjadi penting dalam peningkatan kapasitas pedesaan dalam menghadapi tantangan global.
Daftar Pustaka

Arif, dkk. 2007, Budaya Politik Demokratis, Averroes Press, Malang.

Misman, Rubijanto. 2004, “Profil Ideal Pemimpin Masa Depan Pengembang Eksistensi Indonesia”, Swara Politika Volume 5 No. 2, Oktober 2004, Laboratorium Ilmu Politik FISIP Unsoed, Purwokerto.