selamat datang

Karena Semua Hal Perlu Dikomunikasikan :))

Jumat, 01 Juni 2012

Kontroversi Ujian Nasional

Innas Rizky Afria

Pendidikan merupakan salah satu jalan bagi perbaikan kualitas manusia, baik dari aspek intelektual, kreativitas, sampai persoalan moral. Untuk itulah berbagai upaya dilakukan untuk memperbaiki sistem pendidikan sehingga diperoleh output yang mampu menjawab berbagai persoalan bangsa ini. Perubahan sistem pendidikan, baik dari segi kurikulum maupun standar kelulusan diupayakan seperti Ujian Nasional.
Tahun ini kelulusan tingkat SMA/MA meningkat menjadi 99,50 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 99,22 persen. Peningkatan angka kelulusan ini belum menyelesaikan berbagai polemik soal pendidikan. Standar kelulusan ini bukan mutlak menjadi parameter kecerdasan seseorang, terbukti banyak kasus siswa berprestasi yang tidak lulus UN. Ujian nasional menjadi ‘momok’ bagi siswa yang hendak mengakhiri masa belajarnya karena merupakan salah satu syarat paling penting untuk dapat melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Selain hal tersebut, kelulusan juga menjadi prestise karena jika tidak lulus ujian, mereka akan dianggap bodoh oleh teman-temannya dan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, banyak oknum yang memanfaatkan situasi ini, tak ada jaminan soal-soal ujian nasional tidak bocor. Akhirnya baik dari pemerintah, pihak sekolah, maupun siswa melakukan kecurangan entah dengan cara apapun demi mendapatkan sebuah predikat “LULUS”.

Standar kelulusan melalui UN dirasa tidak adil. Di satu sisi standar nilai kelulusan disamakan bagi semua sekolah, namun di sisi lain para pemangku kebijakan seolah menutup mata terhadap kondisi pendidikan di Indonesia dan juga kondisi sekolahnya. Masih banyak fasilitas sekolah yang tidak layak dan juga tenaga pengajar tidak bermutu karena tidak sesuai dengan keahliannya. Alhasil sekolah “bermutu” hanya milik orang mampu dan sebagian besar sekolah-sekolah tersebut berada di kota-kota besar.

Dengan paradoks yang terjadi, seluruh siswa mendapat beban yang sama, yaitu harus lulus dengan standar Ujian Nasional yang sama pula. Menaikan standar nilai UN bukan solusi untuk menaikan mutu pendidikan, karena di sisi lain masih menyisakan persoalan yang telah disebutkan itu. Dengan berbagai kecurangan yang dilakukan pihak sekolah secara terencana dan terstruktur, mengindikasikan output dengan nilai sempurna bukan jaminan kualitas. Belum lagi soal pemerataan sarana dan prasarana pendidikan di banyak sekolah yang juga menyebabkan tidak meratanya transformasi ilmu yang pada akhirnya tidak maksimalnya dalam pencapaian hasil ujian nasional.

Sekedar Renungan

hidup itu perlombaan....
Jika kau tidak cekatan, orang lain akan merebut peluang...
Untuk lahir saja... harus mengalahkan lebih dari 300 juta sperma lain
Ingat!
Hidup ini perlombaan!
Jika kau tidak cepat, seseorang akan mengalahkanmu dan melaju kencang meninggalkanmu..

Saat ini, di kampus tidak ada yang membicarakan sesuatu yang terkait dengan terobosan baru, tak ada penemuan baru!
Hanya omong besar, hanya nilai, atau paling banter bekerja di perusahaan besar atau perusahaan asing.
Bahkan tidak memperoleh pengetahuan di kampus,..
Mahasiswa hanya diajari bagaimana mendapatkan nilai bagus...

Adakah yang berfikir bahwa hari ini kita akan belajar sesuatu yang baru..?
Tidak!!
Apa gunanya jika kalian hanya begini?
Tidak.!!
Hanya akan ada tekanan

Singa sirkus juga belajar untuk bisa duduk di kursi, hanya karena takut dicambuk.
Tapi kita tetap boleh menyebut singa ini TERLATIH,
BUKAN TERDIDIK

Seorang Profesor pernah berkata, "Jangan belajar untuk menjadi sukses, tapi untuk membesarkan jiwa"
JANGAN MENGEJAR KESUKSESAN! TAPI KESEMPURNAAN!
KEJARLAH KESEMPURNAAN!
MAKA KESUKSESAN AKAN MENDATANGIMU

jangan menghafal dalam belajar!
Pahami materinya...nikmati indahnya ilmu pengetahuan

”Tingkatan” dalam pendidikan yang diutamakan, akan menciptakan perpecahan..

Yakinlah bahwa pasti ada perusahaan..yang membutuhkan manusia, bukan mesin untuk bekerja!

saya tidak meminta kepada Tuhan untuk memberi saya pekerjaan ini,
Saya hanya berkata, "Terima kasih atas hidup yang Kau berikan ini" 

(mas wibiono)

Aku Tak Sekuat Apa yang Mereka Lihat

Ketika aku benar-benar merasa terpojok dan sendiri dalam gelapnya dunia, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mencoba untuk berpikir lebih dewasa, namun terkadang sisi kekanak-kanakan ku muncul begitu saja. Aku tak pernah bisa dan tak biasa dalam kesendirian, namun mungkin mulai saat ini aku HARUS bisa dan biasa. Ketika segala yang ada di dunia ini pergi menjauh dan tak ada satu orang pun yang mengerti tentang perasaanku, aku hanya bisa terdiam dan bahkan menangis sendirian. Saat aku lelah dengan kehidupan ini aku dipaksa untuk terus tetap tersenyum. Dan ketika aku tak mampu menghadapi segala permasalahan hidup, aku dipaksa untuk selalu kuat, untuk bisa bertahan dalam keterbatasan. Apakah ini yang dinamakan hidup?  Aku berusaha untuk tetap terlihat tenang, ceria, cuek, masa bodoh dan menunjukkan kehidupanku yang sempurna. Padahal dibalik semua itu aku hanyalah sesosok orang yang munafik, aku tidak cukup berani menampilkan segala kelemahan, kerapuhan,  dan ketidak berdayaan ku. Aku selalu membutuhkan orang lain untuk mengalihkan semua kekalutan dalam pikiranku.  Saat segala yang ada telah menyesakkan dada, ingin rasanya aku pergi menjauh, berteriak sekencang-kencangnya dan menangis sepuasnya berharap rasa lega hadir dalam dada.

Walau begitu, aku mungkin harus tetap bersyukur akan nafas yang masih Allah berikan untuk ku.. akan segala nikmat dan karuniaNya hingga detik ini yang masih bisa aku rasakan. Hidup dan proses kehidupan adalah buah dari kehidupan itu sendiri, tak ada yang perlu dikeluhkan, yang sulit hanya lah memposisikan sudut pandang dalam memandang hidup. Karena cara pandang itulah yang akan menentukan sikap dan sebuah tindakan.