selamat datang

Karena Semua Hal Perlu Dikomunikasikan :))

Sabtu, 13 Oktober 2012

Cerita Kekonyolanku :]

Beberapa hari lalu, (lupa tepatnya hari apa) aku berangkat ke kantor seusai kuliah. Kira-kira pukul sembilan pagi aku berangkat dari kost-an. Seperti biasa, aku menunggu angkot di sekitar pertigaan depan kampus, karena sudah lama sekali tidak ada angkot lewat, aku pun naik angkot G1, pikirku sama saja jalurnya dengan angkot B2 yang biasa aku naiki untuk berangkat ke kantor. Angkot di kota ini memang cenderung sangat lambat, tidak bisa diajak buru-buru. Di dalam angkot hanya ada seorang bapak-bapak, aku, dan supirnya saja. Karena saking pelannya, aku sampai hampir tertidur di angkot, ngantuk sekali rasanya. Pas sampai di pertigaan Moro, kok angkotnya lurus.. kan jalan mau ke kantorku belok kiri.. haduhh, langsung aku berpikir sepertinya memang salah naik angkutan, aku hanya pasrah saja kemanapun angkot berjalan. Akhirnya aku turun di terminal lama, jarak yang paling dekat dengan kantor. Saat itu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh. Aku pun jalan kaki menyusuri sepanjang jalan S. Parman, tanggung sekali mau naik angkot lagi. Perasaan jaraknya dekat, tapi dirasa-rasa ternyata jauh juga. Matahari cukup menyengat siang itu, keringat pun keluar cukup banyak. Dari kejauhan sudah tampak kantor bercat merah, lega juga rasanya sudah tinggal beberapa langkah. Dengan nafas terengah-engah sampai juga di kantor. Sesampainya dikantor langsung aku ambil nafas dalam-dalam sambil ngadem di ruangan ber-AC, kebetulan saat itu aku belum sarapan jadi tenaga serasa benar-benar terkuras. Hanya perjalanan dari kampus ke kantor saja cukup memakan waktu yang cukup lama, hanya selang beberapa menit sudah masuk jam istirahat. Ckckckc.. ini semua gara-gara salah naik angkot -,-

Aku pun langsung membereskan pekerjaan-pekerjaan ku di kantor, hanya hal surat menyurat saja sebenarnya. Karena aku ada jadwal asistensi mata kuliah tekhum sekitar pukul setengah tiga sore, maka aku ijin meninggalkan kantor pukul setengah dua siang. Setelah salat dzuhur dan beres-beres , aku langsung bergegas untuk pulang. Terik matahari benar-benar menyengat siang itu, aku kembali menunggu angkot B1. Tak lama menunggu, ada angkot yang kutunggu, tanpa pikir panjang aku langsung menyetop angkot tersebut dan menaikinya. Didalam angkot aku teringat sesuatu.. HP ku diamana yaa? Aku cek di tas tidak ada, di saku celana juga tidak ada, seingatku sebelum aku pulang aku meletakkan hp di atas meja kerjaku, huuufthhh, ketinggalan nih kalau begini ceritanya. Akhirnya baru setengah perjalanan aku turun dari angkot dan mencari angkot lagi untuk kembali ke kantor, tentunya mengambil handphone ku yang tertinggal di meja kantor. Ini memang kebiasaan burukku yang susah sekali dihilangkan, ceroboh !

Sampai juga di kantor lagi, segera ku cari handphone kesayanganku di meja, duh kok tidak ada? ternyata sudah diamankan oleh salah satu teman kerjaku, karena aku terburu-buru maka aku langsung mengambil handphone tersebut, tentunya tak lupa mengucap terimakasih, dan kemudian capcus pulang. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat diriku sendiri. Sungguh sangat amat parah sekali. Satu hari saja empat kali naik angkot menghabiskan uang 10.000 rupiah, cuma gara-gara aku yang memang ceroboh, huuuftttthh..

Hari itu cukup melelahkan bagiku karena jadwal kuliahku pun padat hingga sore ..

#semoga kecerobohanku ini bisa dijadikan pelajaran bagi diriku sendiri dan orang lain agar selalu hati-hati dan tidak grusa-grusu dalam melakukan sesuatu :)

Kamis, 11 Oktober 2012

Sekilas Menilik Budaya ..

Filosofi Kebaya
            Bagi seorang wanita Jawa, kebaya bukan hanya sebagai sebatas pakaian. Lebih dari itu kebaya juga menyimpan sebuah filosofi tersendiri. Sebuah filosofi yang mengandung nilai-nilai kehidupan. Keberadaan kebaya di Indonesia bukan hanya sebagai menjadi salah satu jenis pakaian. Kebaya memiliki makna dan fungsi lebih dari itu. Bentuknya yang sederhana bisa dikatakan sebagai wujud kesederhaan dari masyarakat Indonesia. Nilai filosofi dari kebaya adalah kepatuhan, kehalusan, dan tindak tanduk wanita yang harus serba lembut. Kebaya selalu identik dipasangkan dengan jarik atau kain yang membebat tubuh. Kain yang membebat tubuh tersebut secara langsung akan membuat siapapun wanita yang mengenakannya kesulitan untuk bergerak dengan cepat. Itulah sebabnya mengapa wanita Jawa selalu identik dengan pribadi yang lemah gemulai.
Menggenakan kebaya akan membuat wanita yang mengenakannya berubah menjadi seorang wanita yang anggun dan mempunyai kepribadian. Potongan kebaya yang mengikuti bentuk tubuh mau tidak mau akan membuat wanita tersebut harus bisa menyesuaikan dan menjaga diri. Setagen  yang berfungsi sebagai ikat pinggang, bentuknya tak ubah seperti kain panjang yang berfungsi sebagai ikat pinggang. Namun justru dari bentuknya yang panjang itulah nilai-nilai filosofi luhur ditanamkan, merupakan symbol agar bersabar/jadilah manusia yang sabar, erat kaitannya dengan peribahasa jawa “dowo ususe” atau panjang ususnya yang berarti sabar.

Sekilas Tentang Kain Batik dan Sejarahnya
Kata Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya “wax-resist dyeing”(www.wikipedia.com). Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.
Tradisi falsafah Jawa yang mengutamakan pengolahan jati diri melalui praktek-praktek meditasi dan mistik dalam mencapai kemuliaan adalah satu sumber utama penciptaan corak-corak batik tersebut selain pengabdian sepenuhnya kepada kekuasaan raja. Motif-motif batik tidak sekedar gambar atau ilustrasi saja namun motif-motif batik tersebut dapat dikatakan ingin menyampaikan pesan, karena motif-motif tersebut tidak terlepas dari pandangan hidup pembuatnya, dan lagi pemberian nama terhadap motif-motif tersebut berkaitan dengan suatu harapan.
Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta. Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan perekonomian Belanda.
Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing. Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.

Batik Motif Khas Jawa Tengah (Solo & Yogyakarta)
            Dari kerjaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitamya abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
            Motif-motif batik Yogya-Solo dan filosofinya antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Truntum/trutul
Motif ini melambangkan cinta yang bersemi kembali. Dalam pemakaianya motif ini melambangkan orang tua yang menuntun anaknya dalam upacara pernikahan sebagai pintu menjalankan kehidupan baru yaitu kehidupan rumah tangga yang sarat godaan. Diharapkan motif ini akan menjadikan kehidupan pernikahan menjadi langgeng diwarnai kasih sayang yang selalu bersemi. Kegunaan batik Truntum/trutul: Untuk orang tua pengantin pada waktu upacara panggih. Filosofi batik Truntum: Truntum berarti menuntun, sebagai orang tua berkewajiban menuntun kedua mempelai memasuki hidup baru atau berumah tangga yang banyak liku-likunya.
2.      Wahyu Tumurun
Filosofi Wahyu Tumurun : Wahyu berarti anugerah, temurun berarti turun, dengan menggunakan kain ini diharapkan mendapatkan anugerah dari yang Maha Kuasa berupa kehidupan yang bahagia dan sejahtera serta mendapat petunjukNya.
3.      Sido Luhur
Motif Sida Luhur (dibaca Sido Luhur) bermakna harapan untuk mencapai kedudukan yang tinggi, dan dapat menjadi panutan masyarakat. Bagi orang Jawa, hidup memang untuk mencari keluhuran materi dan non materi. Keluhuran materi artinya bisa tercukupi segala kebutuhan ragawi dengan bekerja keras sesuai dengan jabatan, pangkat, derajat, maupun profesinya. Sementara keluhuran budi, ucapan, dan tindakan adalah bentuk keluhuran non materi. Orang yang bisa dipercaya oleh orang lain, atau perkataannya sangat bermanfaat kepada orang lain tentu itu akan lebih baik daripada perkataannya tidak bisa dipegang orang lain dan tidak dipercaya orang lain. Orang yang sudah bisa dipercaya oleh orang lain adalah suatu bentuk keluhuran non materi. Orang Jawa sangat berharap hidupnya kelak dapat mencapai hidup yang penuh dengan nilai keluhuran.
4.      Sido Mukti
Motif-motif berawalan sida (dibaca sido) merupakan golongan motif yang banyak dibuat para pembatik. Kata “sida” sendiri berarti jadi/ menjadi/terlaksana. Dengan demikian, motif-motif berawalan “sida” mengandung harapan agar apa yang diinginkan bisa tercapai. Salah satunya adalah sida mukti, yang mengandung harapan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin.
5.      Buntal
Filosofi batik dengan motif buntal adalah semangat persatuan dan kesatuan. Karena dahulu merupakan jaman perang melawan penjajah, pesan yang ingin disampaikan dalam motif ini adalah kuatkan barisan jangan sampai tercerai berai. Selalu komunikasi antar kelompok satu dengan yang lainnya.

6.      Parang Barong
Ada juga yang memaknai  bahwa motif batik ini berasal dari kata “batu karang” dan “barong” (singa). Parang Barong merupakan parang yang paling besar dan agung, dan karena kesakralan filosofinya motif ini hanya boleh digunakan untuk Raja, terutama dikenakan pada saat ritual keagamaan dan meditasi. Ada juga yang memaknai bahwa parang berasal dari senjata seperti golok panjang.
Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Motif Parang Rusak Barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri. Motif ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.
7.      Parang Rusak
Selain parang barong, jenis motif parang lainnya adalah Parang Rusak. Motif ini hanya digunakan oleh para bangsawan pada masa dahulu untuk upacara-upacara kenegaraan di lingkungan kraton. Motif ini sampai sekarang masih tetap terjaga. Pada jaman dahulu, Parang Rusak biasanya digunakan prajurit setelah perang, untuk memberitahu Raja bahwa mereka telah memenangkan peperangan. Menurut Koeswadji, sesuai dengan arti kata, Parang Rusak mempunyai arti perang atau menyingkirkan segala yang rusak, atau melawan segala macam godaan. Motif ini mengajarkan agar sebagai manusia mempunyai watak dan perilaku yang berbudi luhur sehingga dapat mengendalikan segala godaan dan nafsu.


*) dalam rangka memenuhi tugas komunikasi tradisional di smt 5

Jumat, 05 Oktober 2012

Cukup Melelahkan Namun Berkesan..

Rasanya, sudah lama sekali aku ga posting ke blog ini yaa ? Hufth.. ini gara-gara aku terlalu sibuk kali yaa ? Oh bukan, itu sih hanya alibi, sebenarnya juga karena aku lupa password blog aku ini, hahayy..

Aku hanya ingin sekedar cerita sih ini, mau penting atau ga, mau bermutu atau ga ,yaa bodo amat deh.

Aku sudah hampir genap 3 bulan menjalani kerja praktek atau dengan kata lain bisa juga disebut magang, di kantor Telkomsel ceritanya. Aku mengikuti program co-op Telkom dan dinyatakan lolos. Aku mulai masuk tanggal 16 Juli 2012, tepatnya hari Senin. Berhubung saat itu aku baru saja pulang dari Malang, aku datang ke kantor setelah jam istirahat siang. Aku ke kantor diantar mas wibiono. Sesampainya di kantor, aku lantas dikenalkan dengan orang-orang yang berada dikantor, setelah itu aku langsung diikkutsertakan meeting dengan divisi CSC (Community and Segmented Customer). Awalnya aku diposisikan untuk ikut bekerja di luar kantor, keliling sekolah, belajar lobby, follow up, dan presentasi. Namun belum ada sebulan tiba-tiba posisiku dialihkan menjadi asisten admin di kantor, kerjaannya hanya membantu dan menyiapkan keperluan orang-orang lapangan, menerima report dari hasil distribusi mereka, menyiapkan keperluan meeting, mendata proposal masuk, hingga menemui pihak pemohon sponsor. Jam kerjaku standar, masuk jam 08.00 pagi, pulang pukul 17.00. Tapi kadang aku bisa berangkat lebih pagi atau siang dan pulang lebih cepat maupun malam, ini terjadi biasanya karena situasi dan kondisi di kantor. Pernah waktu itu aku dikantor hingga pukul 10,00 malam karena harus mengejar target aktivasi 700 perdana. Lumayan cape sih, tapi tak apalah, itung-itung pengalaman ngrasain gimana kerja lembur.

Masih kurang sebulan magang, periode kuliah telah dimulai, aku bingung. Tapi ya sudahlah, jalani saja. Kuliah sambil kerja. Kadang baru berangkat ke kantor setelah jam kuliah dan pulang kantor sebelum jam 5 karena ada kuliah. Lumayan bercabang dan terpecah juga nih pikiranku, antara kerjaan dan kuliah. Namun aku berusaha tetap stay cool ngejalaninnya walaupun kadang rada stres jugaa, dikit. Tak terasa seminggu lagi masa magangku akan berakhir, kok jadi ada rasa yang aneh yaa. Sebelumnya biasa-biasa saja, namun semakin mendekati akhir rasanya sedih-sedih gimana gitu. Pasti akan sangat merindukan suasana kantor, dari suasana yang tegang sampai santai, merindukan canda tawa bersama disana, melihat karakter orang-orang disana, bercanda disela-sela kesibukan. 3 bulan yang cukup berkesan walaupun kadang aku mengeluh juga karena lelah.

Semoga 3 bulan ini dapat bermanfaat bagi kehidupanku nantinya, pengalaman yang cukup istimewa, teman-teman yang mengesankan, para spv yang selalu sok sibuk dengan segala kerjaannya, suasana yang kadang membosankan dan menjenuhkan, tapi aku pasti akan merindukan semua itu, karena aku belajar banyak hal disitu :)


Selasa, 19 Juni 2012

Bagaimana Ini?

Ketika aku ingin menulis, aku bertanya pada seseorang tentang apa yang akan ku tulis. Nah, orang itu menjawab 'ga tau, kan kamu yang mau nulis?'. Hhhhhmmm...iya juga sih, tapi kan aku juga butuh inspirasi buat nulis. Hadduuhhhhh .

Sebenarnya, inilah salah satu kelemahan saya. Hhhh, ceritanya tugas-tugas kuliah saya kebanyakan adalah membuat semacam tulisan, entah itu essay, opini, narasi, berita, dan lain sebagainya. Telah tiba saatnya kini menjelang Ujian Akhir Semester, tugas-tugas pun mulai kembali menumpuk, sedangkan saya sama sekali belum menemukan inspirasi, ide, ataupun gagasan untuk membuat sebuah tulisan. Lantas, harus bagaimana? lagi-lagi menggalau lagi kalau seperti ini ceritanya. Hhhmm, okelah masih ada waktu cukup lama, tapi kalau terus-terusan tidak ada gambaran sama saja membuang-buang waktu. Seharusnya hanya dalam hitungan hari, tugas sudah dapat terselesaikan. Kadang saya bingung harus memulai sebuah tulisan darimana, kemudian ketika saya menemukan topik tulisan dan mencoba mulai menulis, saya kurang bisa fokus terhadap topik permasalahan yang sedang saya bahas. Daftar tugas-tugas saya untuk Ujian Akhir yang harus mulai saya kerjakan antara lain adalah :
  1. Membuat tulisan berbentuk feature dengan informan tokoh politik 
  2. Membuat makalah dengan tema komunikasi lintas budaya 
Untung saja tulisan yang berbentuk artikel sudah selesai saya kerjakan dan sudah saya kirim ke sebuah koran sesuai dengan instruksi dosen pengampu mata kuliah jurnalistik media cetak. Tugas komunikasi politik yang juga membuat artikel juga sudah berhasil saya kerjakan walaupun dengan mencari referensi yang kira-kira dapat mempermudah penyusunan artikel.

Huhhhh, okay.. DON'T COMPLAIN ! tak boleh banyak mengeluh , nikmati, dan kerjakan saja  semampunya, pasti bisa :)

Senin, 11 Juni 2012

Wahai Pendidikan yang Abnormal


“Pendidikan adalah sebuah kenyataan yang tidak lain dari proses pembenaran akan praktek-praktek penindasan yang melembaga” Paolo Freire.
Dunia pendidikan adalah nyawa dari kemajuan bangsa. Pendidikan merupakan pondasi sebuah bangunan bangsa dan negara. Bila kita melihat kondisi pendidikan di Indonesia, sungguh sangat memprihatinkan, karena sampai saat ini sektor pendidikan belum mendapat perhatian penuh dari lembaga negara. Negara saat ini lebih mementingkan sektor ekonomi dan politik. Padahal kita tahu tanpa adanya fundamental yaitu tingkat pengetahuan dan kecerdasan, maka kesemuanya akan tak bermakna. Apalah artinya membangun sistem politik dan ekonomi untuk kemajuan bangsa, tetapi rakyat berada dalam dunia kebodohan. Lain halnya bila aparatur negara sengaja manciptakan sistem yang hanya menguntungkan pihaknya saja tanpa peduli akan nasib masa depan bangsa.
Hilangnya jati diri
Kondisi pendidikan di tanah air kian kehilangan jati diri dan jiwanya seiring dengan krisis multidimensi dan arus globalisasi yang melanda. Fungsi lembaga pendidikan sebagai wahana penempatan generasi muda untuk menguasai berbagai disiplin ilmu yang kelak menjadi pahlawan untuk membebaskan kita semua dari belenggu ‘penjajahan’—baik yang dilakukan oleh bangsa asing maupun bangsa sendiri—telah berfungsi menjadi wilayah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat pragmatis.
Ada pepatah yang menyatakan bahwa harta tanpa ilmu adalah hampa dan sia-sia,. Tetapi dengan ilmu, harta akan mudah didapat dan lebih bermanfaat. Tapi ini tak berlaku di negeri kita. Nyatanya kaum borjuis makin kaya raya walau dengan latar belakang pendidikan yang tidak jelas. Gelar akademik sangat mudah didapat, bahkan dari perguruan tinggi negeri sekalipun. Yang mereka cari hanyalah prestise yang menolong penampilannya serta mandapat pengakuan dari masyarakat. Institusi pendidikan sudah beralih pada paradigma finansial. Pendidikan menjadi lahan bisnis para birokrat. Dan dampaknya pendidikan sudah mengalami distorsi. Pendidikan di negeri ini sudah dapat dikatakan abnormal layaknya orang yang tak waras. Dia sudah mulai linglung dan tidak tahu akan jatidirinya sebagai media berproses bagi rakyat, yang kelak diharapkan mampu menciptakan konstruksi masyarakat yang sitematis (agent of change). Beberapa konsep, diktum, dan metodologi yang bermacam-macam dalam sistem pendidikan sampai sekarang masih dalam taraf utopis yang belum mapu membumi. Tak pelak, visi dan misi institusi pendidikan hanya menjadi sebuah jargon-jargon belaka.
Saat ini parameter keberhasilan pendidikan hanya didasakan pada sebuah nilai. Tak heran hampir seluruh pelajar hanya berorientasi pada pencapaian angka di lembaran buku rapot atau ijasah. Pemerintah berusaha menaikkan standar kelulusan dengan maksud mencerdasan kehidupan bangsa. Tapi malah ini yang menjerumuskan masa depan bangsa. UN hanya berpatok pada tiga mata pelajaran saja, yang berakibat pengesampingan pelajaran lain oleh siswa.Selain itu, banyak contoh kasus yang penulis tahu, pihak sekolah membentuk tim sukses bagi kelulusan siswa dengan jalan yang picik. Siswa tidak pernah tahu hasil kelulusannya itu berkat bantuan dari para guru mereka. Ini dimaksudkan untuk mendongkrak popularitas sekolah tersebut pada tahun ajaran baru. Dan dengan demikian, akan dengan mudahnya pihak sekolah me-malak orang tua siswa yang akan menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut lewat uang sumbangan.
Ironis memang tatkala nilai luhur atau jiwa dan konsep pendidikan yang begitu penting bagi manusia–sampai-sampai menadapat justifikasi dari segala aturan hidup seperti hukum agama, adat, sampai negara yang mengharuskan manusia untuk melaksanakan proses pendidikan—apabila dibenturkan dengan realitas di tengah bangsa kita. Yang dilahirkan dari rahim pendidikan ternyata belum mampu memberi kontribusi bagi kemajuan malah kian menggerogoti. Apakah pendidikan kita memang sudah abnormal? Wahai pendidikan yang abnormal, sudah saatnya engkau bangun dari ketidaksadaranmu, karena sampai saat ini belum ada psikiater atau rumah sakit jiwa untukmu. Semoga pendidikan dapat segera sadar.

Oleh: Bambang Wibiono*

Rabu, 06 Juni 2012

Cantik ?

Jika kita menyebut kata cantik pasti diidentikkan dengan tinggi, seksi, mulus, montok, berambut panjang, dan segala kesempurnaan yang ada didiri wanita. Itu semua terbentuk dari konstruksi masyarakat. Sebenarnya apa sih yang dilihat dari seorang wanita, apa hanya cantik? Tubuh seksi? Atau bahkan status sosial (harus dari kalangan tertentu mungkin??). Nah, lantas apa wanita yang tidak tinggi, tidak seksi, tidak mulus, dan tidak berkulit putih itu ga cantik ?
Sebenarnya apa sih defenisi cantik ?
 
Cantik menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah indah,elok dan rupawan. Cantik itu memang relatif. Definisi kecantikan selalu berubah menurut waktu dan tempat. Sebagian mengatakan wanita yang berkulit putih itu cantik, sementara sebagian yang lain mengatakan yang cantik adalah yang berkulit sawo matang. Sebagian lagi berpendapat orang cantik itu adalah yang tinggi seperti para elit model, padahal ada sebagian yang lain justru mengatakan bahwa yang cantik itu adalah wanita yang kecil imut-imut.
 
Ada juga orang yang mengatakan bahwa etnis Cina dan Jepang yang bermata sipit itu cantik, padahal ada orang yang justru mengatakan cantik kepada seorang wanita yang bermata besar. Setiap orang mungkin mempunyai definisi masing-masing tentang apa itu cantik. Dan tidak ada seorangpun yang dapat kita paksa untuk menerima definisi  menurut kita.
 
Tanyakanlah kepada setiap wanita tentang perasaan mereka ketika dipuji dengan kata cantik. Pasti, tidak semua orang akan bahagia ketika dipuji seperti itu. Karena ternyata, ketika kita renungkan lebih jauh, tidak selalu pujian itu mengatakan hal yang sebenarnya. Itu akan sangat tergantung dengan orang yang mengucapkan, keadaan ketika kata itu terlontar, ekspresi wajah dan gerak tubuh dari sang pemuja, konteks kalimat itu sendiri, kalimat yang mengiringi pujian itu, dan sebagainya. Bisa jadi seseorang menyebut kita cantik hanya untuk menghibur hati yang sedih, atau ingin mengambil hati untuk sesuatu sebab, atau malah ingin menyindir, atau memang karena hal itu adalah suatu kebenaran.
 
Jangan besar kepala ketika ada seseorang yang menyanjung kita dengan pujian cantik. Jangan pula berkecil hati ketika tidak pernah ada yang memuji kita seperti itu. Toh, itu semua adalah ujian. Apakah kecantikan atau ketidakcantikan itu akan membawa kita lebih dekat kepada-Nya, ataukah justru akan menjadi fitnah besar yang menyeret kaki kita ke jurang kenistaan.

Ketika pujian itu terlontar, ucapkanlah alhamdulillah, karena memang segala pujian itu hanya layak dialamatkan kepada-Nya, Sang Penyempurna segala kejadian. Lalu… segeralah beristighfar! Karena pujian itu bisa jadi akan melintaskan rasa sombong (walaupun mungkin orang lain tidak bisa melihat kesombongan itu). Segera beristighfar!!

Sementara ketika pujian itu tidak juga terlontar, atau justru terlontar kepada orang lain, ucapkanlah juga alhamdulillah… Karena mungkin Allah sedang hendak menguji rasa syukur kita. Rasa syukur atas apa yang ada, juga rasa syukur atas kesempurnaan kejadian kita. Ingatkah firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At-Tiin: 4)

Berbahagialah kalian ketika kecantikan itu bukan sekedar menghiasi wajah, tapi terutama hati dan akhlak kita. Karena kecantikan fisik pasti akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Tapi kecantikan hati dan akhlak, itulah yang akan bersinar dan terus dikenang oleh orang-orang di sekitar kita. Wallahua’lam bish showab.

(Innas Rizky Afria 17/06/11)

Tentang Sebuah Rasa

Rasa itu hadir seketika. Rasa itu tumbuh dengan sendirinya, semakin hari rasa itu semakin hebat. Dan ketika apapun tak mampu mencegah rasa yang terus tumbuh subur, adakah yang bisa dipersalahkan? Adakah yang salah dengan apa yang aku rasa? Aku tak menginginkan ataupun meminta rasa ini ada, tapi apa daya ego tak mampu mengalahkan perasaan. Di satu sisi, ingin rasanya menolak perasaan ini, namun hati kecil berkata bahwa ini bukan perasaan biasa dan akan sulit mengingkarinya. Sakit rasanya ketika keadaan mengharuskan diri ini berbohong. Rasa inilah yang memberikan kekuatan atas sebuah keyakinan akan terwujudnya kebahagiaan. Memang bukan hal mudah untuk menggapai bahagia, banyak hal sulit yang harus dihadapi. Namun, ini tak kan mampu mengalahkan betapa hebatnya rasa yang telah tertanam di hati. Perbedaan-perbedaan tercipta agar kita dapat saling melengkapi. Setiap orang berhak merasakan perasaan ini. Rasa ini pun cukup membingungkan, entah bagaimana cara untuk mengungkapkan betapa dahsyatnya perasaan ini tumbuh dalam benak hatiku.
    Ya Allah, Ya Rabbi yang Maha Mengetahui isi hati, peliharalah perasaan ini hingga akhir hayat, kendalikanlah segala rasa yang ada dalam hati ku.. Engkaulah Maha Pembolak-balik hati, maka lindungilah aku dari segala sesuatu yang akan mengotori hati ini. Tuntunlah aku agar tetap berada di jalan Mu untuk menggapai ridho Mu dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki bersama orang yang aku sayang, bersama orang yang telah Engkau tetapkan manjadi pendamping hidupku. Tunjukkanlah yang terbaik bagi ku dan bagi nya. Mudahkanlah kami dalam menghadapi segala sesuatu yang akan akan datang Ya Allah, Engkaulah Maha pengasih dan Penyayang.
20.07.11
litelprincess



Kini kurasakan sepi
Tiada tawa tiada canda, tiada kata tiada suara
Mengapa hanya ada bisu ?
Mengapa aku hanya bisa meneteskan air mata?
Walau rumput bergoyang
Walau angin ramah menyapa
Namun hati tiada tersapa
Tak pula mampu mengusap air mata
Angin, ku ingin bercengkrama dengan mu
Dalam setiap hembusan yang kau berikan
Rumput, ku ingin berteman dengan mu
Bergerak bebas mengikuti irama sang bayu..
rya-Juli'04

Semoga Tak Terulang

Selingan curahan hatii, kisah sedih di malam minggu judulnya..

malam ini malam minggu, yaa..sebenarnya memang tak pernah ada bedanya dengan malam-malam yang lain. mungkin hanya suasana luar saja yang berbeda, terlihat lebih ramai dan banyak para remaja yang bermalam mingguan, entah sendiri ,bersama teman, atau bersama pasangannya. setelah beberapa hari aku hanya berdiam diri di kost an, aku pun ingin merasakan suasana yang berbeda. aku memang termasuk tipe orang yang cenderung gampang bosan. aku ingin menghabiskan malam di luar, menikmati suasana malam, atau apa sajalah yang penting tidak garing dan tidak membuatku bosan. malam minggu yang sederhana namun berkesan, ittulah yang aku harapkan sebenarnya malam ini. berharap memang tak dilarang.
akhirnya aku jalan bersama seseorang (spesial tentunya). kami hanya sekedar jalan-jalan berkeliling kota saja sebenarnya, berangkat sekitar jam setengah 7. eh, baru setengah jalan menikmati malam malah kejadian missunderstand.. hhaaahhh, dan hal itu sangat membuat ku total kehilangan mood. sebenarnya bukan masalah besar, malah bukan masalah sebenarnya. tapi aku yang saat itu benar-benar sedang antusias jalan seolah dipatahkan antusiasme itu karena secara tidak langsung diajak kembali ke kosan. hhuuuufttthh, hanya sederhana sebenarnya inginku. tak banyak. ketika itu memang perutku sudah mulai terasa lapar, tapi tak terlalu. aku ingin makan mi ayam berdua dipinggir jalan sambil menikmati suasana malam dan orang yang lalu lalang, setelah itu baru melanjutkan jalan-jalan. ehh, tak taunya mi ayam itu terlanjur dibungkus, mau dimakan dimana cobaa?? malas sekali pulang ke kosan. apalagi waktu masih menunjukkan pukul 08.20, setidaknya masih ada sedikit waktu untuk jalan-jalan. dengan tampang bete, aku minta langsung diantar pulang ke kost an saja. akhirnya aku menemukan cara mengembalikan mood yang sempat hilang, menonton film 'wedding dress' lumayan menghibur. semoga besok sensivitasku mulai menurun dan sudah kembali normal. hmmm.. walaupun cerita nya ga mutu, tapi gapapa deh. pura-puranya aku cuma mau meluapkan uneg-uneg aja disini..

Jumat, 01 Juni 2012

Kontroversi Ujian Nasional

Innas Rizky Afria

Pendidikan merupakan salah satu jalan bagi perbaikan kualitas manusia, baik dari aspek intelektual, kreativitas, sampai persoalan moral. Untuk itulah berbagai upaya dilakukan untuk memperbaiki sistem pendidikan sehingga diperoleh output yang mampu menjawab berbagai persoalan bangsa ini. Perubahan sistem pendidikan, baik dari segi kurikulum maupun standar kelulusan diupayakan seperti Ujian Nasional.
Tahun ini kelulusan tingkat SMA/MA meningkat menjadi 99,50 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 99,22 persen. Peningkatan angka kelulusan ini belum menyelesaikan berbagai polemik soal pendidikan. Standar kelulusan ini bukan mutlak menjadi parameter kecerdasan seseorang, terbukti banyak kasus siswa berprestasi yang tidak lulus UN. Ujian nasional menjadi ‘momok’ bagi siswa yang hendak mengakhiri masa belajarnya karena merupakan salah satu syarat paling penting untuk dapat melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Selain hal tersebut, kelulusan juga menjadi prestise karena jika tidak lulus ujian, mereka akan dianggap bodoh oleh teman-temannya dan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, banyak oknum yang memanfaatkan situasi ini, tak ada jaminan soal-soal ujian nasional tidak bocor. Akhirnya baik dari pemerintah, pihak sekolah, maupun siswa melakukan kecurangan entah dengan cara apapun demi mendapatkan sebuah predikat “LULUS”.

Standar kelulusan melalui UN dirasa tidak adil. Di satu sisi standar nilai kelulusan disamakan bagi semua sekolah, namun di sisi lain para pemangku kebijakan seolah menutup mata terhadap kondisi pendidikan di Indonesia dan juga kondisi sekolahnya. Masih banyak fasilitas sekolah yang tidak layak dan juga tenaga pengajar tidak bermutu karena tidak sesuai dengan keahliannya. Alhasil sekolah “bermutu” hanya milik orang mampu dan sebagian besar sekolah-sekolah tersebut berada di kota-kota besar.

Dengan paradoks yang terjadi, seluruh siswa mendapat beban yang sama, yaitu harus lulus dengan standar Ujian Nasional yang sama pula. Menaikan standar nilai UN bukan solusi untuk menaikan mutu pendidikan, karena di sisi lain masih menyisakan persoalan yang telah disebutkan itu. Dengan berbagai kecurangan yang dilakukan pihak sekolah secara terencana dan terstruktur, mengindikasikan output dengan nilai sempurna bukan jaminan kualitas. Belum lagi soal pemerataan sarana dan prasarana pendidikan di banyak sekolah yang juga menyebabkan tidak meratanya transformasi ilmu yang pada akhirnya tidak maksimalnya dalam pencapaian hasil ujian nasional.

Sekedar Renungan

hidup itu perlombaan....
Jika kau tidak cekatan, orang lain akan merebut peluang...
Untuk lahir saja... harus mengalahkan lebih dari 300 juta sperma lain
Ingat!
Hidup ini perlombaan!
Jika kau tidak cepat, seseorang akan mengalahkanmu dan melaju kencang meninggalkanmu..

Saat ini, di kampus tidak ada yang membicarakan sesuatu yang terkait dengan terobosan baru, tak ada penemuan baru!
Hanya omong besar, hanya nilai, atau paling banter bekerja di perusahaan besar atau perusahaan asing.
Bahkan tidak memperoleh pengetahuan di kampus,..
Mahasiswa hanya diajari bagaimana mendapatkan nilai bagus...

Adakah yang berfikir bahwa hari ini kita akan belajar sesuatu yang baru..?
Tidak!!
Apa gunanya jika kalian hanya begini?
Tidak.!!
Hanya akan ada tekanan

Singa sirkus juga belajar untuk bisa duduk di kursi, hanya karena takut dicambuk.
Tapi kita tetap boleh menyebut singa ini TERLATIH,
BUKAN TERDIDIK

Seorang Profesor pernah berkata, "Jangan belajar untuk menjadi sukses, tapi untuk membesarkan jiwa"
JANGAN MENGEJAR KESUKSESAN! TAPI KESEMPURNAAN!
KEJARLAH KESEMPURNAAN!
MAKA KESUKSESAN AKAN MENDATANGIMU

jangan menghafal dalam belajar!
Pahami materinya...nikmati indahnya ilmu pengetahuan

”Tingkatan” dalam pendidikan yang diutamakan, akan menciptakan perpecahan..

Yakinlah bahwa pasti ada perusahaan..yang membutuhkan manusia, bukan mesin untuk bekerja!

saya tidak meminta kepada Tuhan untuk memberi saya pekerjaan ini,
Saya hanya berkata, "Terima kasih atas hidup yang Kau berikan ini" 

(mas wibiono)

Aku Tak Sekuat Apa yang Mereka Lihat

Ketika aku benar-benar merasa terpojok dan sendiri dalam gelapnya dunia, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mencoba untuk berpikir lebih dewasa, namun terkadang sisi kekanak-kanakan ku muncul begitu saja. Aku tak pernah bisa dan tak biasa dalam kesendirian, namun mungkin mulai saat ini aku HARUS bisa dan biasa. Ketika segala yang ada di dunia ini pergi menjauh dan tak ada satu orang pun yang mengerti tentang perasaanku, aku hanya bisa terdiam dan bahkan menangis sendirian. Saat aku lelah dengan kehidupan ini aku dipaksa untuk terus tetap tersenyum. Dan ketika aku tak mampu menghadapi segala permasalahan hidup, aku dipaksa untuk selalu kuat, untuk bisa bertahan dalam keterbatasan. Apakah ini yang dinamakan hidup?  Aku berusaha untuk tetap terlihat tenang, ceria, cuek, masa bodoh dan menunjukkan kehidupanku yang sempurna. Padahal dibalik semua itu aku hanyalah sesosok orang yang munafik, aku tidak cukup berani menampilkan segala kelemahan, kerapuhan,  dan ketidak berdayaan ku. Aku selalu membutuhkan orang lain untuk mengalihkan semua kekalutan dalam pikiranku.  Saat segala yang ada telah menyesakkan dada, ingin rasanya aku pergi menjauh, berteriak sekencang-kencangnya dan menangis sepuasnya berharap rasa lega hadir dalam dada.

Walau begitu, aku mungkin harus tetap bersyukur akan nafas yang masih Allah berikan untuk ku.. akan segala nikmat dan karuniaNya hingga detik ini yang masih bisa aku rasakan. Hidup dan proses kehidupan adalah buah dari kehidupan itu sendiri, tak ada yang perlu dikeluhkan, yang sulit hanya lah memposisikan sudut pandang dalam memandang hidup. Karena cara pandang itulah yang akan menentukan sikap dan sebuah tindakan.

Kamis, 19 Januari 2012

Teori Negosiasi Muka

Oleh: Innas Rizky Afria

 
Teori Negosiasi muka adalah satu dari sedikit yang secara eksplisit mengakui bahwa orang dari budaya yang berbeda memiliki bermacam pemikiran mengenai “muka” orang lain. Pemikiran ini menyebabkan mereka menghadapi konflik dengan cara yang berbeda. Karena muka merupakan perpanjangan dari konsep diri seseorang, muka telah menjadi fokus dari banyak penelitian di dalam beberapa bidang ilmu.

Asumsi Teori Negosiasi Muka

1.    Identitas diri penting di dalam interaksi interpersonal, dan individu-individu menegosiasikan identitas mereka secara berbeda dalam budaya yang berbeda.
Asumsi yang pertama menekankan pada identitas diri ( self-identity), atau cirri pribadi atau atribut karakter seseorang. Identitas diri mencakup pengalaman kolektif seseorang, pemikiran, ide, memori, dan rencana (West & Turner, 2006 ). Identitas diri orang tidak bersifat stagnan, memalinkan dinegosiasikian dalam interaksi dengan orang lain. Melekat dengan asumsi pertama ini adalah keyakinan bahwa para individu di dalam sebuah budaya memiliki beberapa citra diri yang berbeda dan bahwa meraka menegosiasikan citra ini secara terus menerus. Ting-Toomey (1993 ) menyatakan bahwa rasa akan diri seseorang merupaka hal yang sadar atau tidak sadar. Maksudnya, dalam banyak buadaya yang berbeda, orang-orang membawa citra yang mereka presentasikan kepada orang lain secara kebiasaan atau strategis. Ting-Toomey percaya bahwa bagaimana kita memersepsikan rasa akan diri kita dan bagaimana kita ingin orang lain untuk memersepsikan kita merupakan hal yang sangat penting dalam pengalaman komunikasi kita.
 
2.    Manajemen konflik dimediasi oleh muka dan budaya
 
Asumsi kedua dari Teori Negosiasi Muka berkaitan dengan konflik, yang merupakan komponen utama dari Teori ini. Konflik dalam Teori ini, bekerja sama dengan muka dan budaya. Bagi Ting-Toomey (1994), konflik dapat merusak muka sosial seseorang dan dapat mengurangin kedekatan hubungan antara dua orang. Sebagai mana ia menyatakan bahwa konflik adalah “ forum “ bagi kehilangan muka dan penghinaan terhadap muka.
 
3.    Tindakan-tindakan tertentu mengancam citra diri seseorang yang ditampilkan
 
Asumsi ketiga dari Teori Negosiasi Muka berkaitan dengan dampak yang dapat diakibatkan oleh suatu tindakan terhadap muka. Ting-Toomey dan Mark Cole (1990) jika pencitraan diri kita terancam ada dua proses untuk memperbaiki citra tersebut:
•    Penyelamatan Muka (face-saving), yaitu mencakup usaha – usaha untuk mencegah peristiwa yang dapat menimbulkan kerentanan atau merusak citra seseorang. Penyelamatan wajah sering kali tidak memperdulikan rasa malu.
•    Pemulihan Muka (face restoration), yaitu strategi yang digunakan untuk mempertahankan otonomi dan menghindari kehilangan muka. Pemulihan muka dilakukan setelah terjadi kehilangan muka. Ting-Toomey dan 
Cole mengamati bahwa orang berusaha untuk memulihkan muka dalam rangka merespon suatu peristiwa. 


Teori Kelompok Bungkam (Muted Group Theory)

Oleh: Innas Rizky Afria


Teori kelompok bungkam menjelaskan bahwa wanita berusaha menggunakan bahasa yang diciptakan oleh pria untuk mendeskripsikan pengalaman mereka dalam cara yang sama seperti halnya ketika seorang penutur asli bahasa inggris belajar bercakap-cakap dalam bahasa Spanyol.
Tetapi, tidak semua wanita bungkam dan semua pria memiliki suara. Teori kelompok bungkam memungkinkan kita untuk memahami kelompok mana pun yang dibungkam karena tidak memadainya bahasa mereka. Selain itu, pembungkaman dapat terjadi sebagai hasil dari ketidakpopuleran pandangan yang berusaha untuk diungkapkan seseorang.
Pencetus Teori: Edwin Ardener dan Shirley Ardener yang merupakan seorang antropolog sosial.
Latar Belakang Pemikiran
Edwin Ardener dan Shirley Ardener melakukan penelitian berkaitan dengan struktur dan hierarki sosial. Pada tahun 1975, Edwin Ardener mengatakan bahwa kelompok yang menyusun bagian teratas dari hierarki sosial menentukan sistem komunikasi bagi budaya tersebut. Kelompok dengan kekuasaan lebih rendah seperti wanita, kaum miskin, dan orang kulit berwarna, harus belajar untuk bekerja dalam sistem komunikasi yang telah dikembangkan oleh kelompok dominan. Dengan mengubah generalisasi ini ke dalam kasus tertentu mengenai wanita di dalam budaya. Edwin Ardener menyatakan, “Mereka yang terlatih dalam bidang etnografi jelas-jelas memilih bias terhadap jenis model yang para pria siap diberikan (atau disetujui) oleh para pria dibandingkan terhadap model mana pun yang dapat diberikan wanita. Jika pria tampak lebih pandai bicara dibandingkan wanita, ini merupakan kasus dari orang-orang yang sama berbicara mengenai hal yang sama.”
Selain itu, Shirley Ardener mengamati bahwa kebungkaman wanita merupakan pasangan dari ketulian pria. Karenannya, ia menjelaskan bahwa wanita (atau anggota dari kelompok bawah mana pun) memang berbicara, tetapi kata-kata mereka berjatuhan pada telinga yang tuli (tidak mau mendengarkan), dan ketika ini terjadi sejalan dengan waktu, mereka cenderung berhenti mencoba untuk mengemukakan pendapat mereka, dan bahkan mereka mulai berhenti untuk memikirkannya.
Bagi Edwin, kelompok yang bungkam dianggap tidak pandai berbicara oleh sistem bahasa kelompok yang dominan, yang tumbuh secara langsung dari pandangan terhadap dunia dan pengalaman mereka.

Bagi kelompok bungkam, apa yang mereka katakan pertama kali harus bergeser dari pandangan mereka sendiri terhadap dunia dan kemudian diperbandingkan dengan pengalaman-pengalaman dari kelompok yang dominan. Karenanya, artikulasi bagi kelompok bungkam merupakan hal yang tidak langsung dan rusak.
Asumsi Dasar
•    Wanita mempersepsikan dunia secara berbeda dibandingkan pria karena pengalaman pria dan wanita yang berbeda serta adanya kegiatan-kegiatan yang berakar pada pembagian pekerjaan.
•    Karena dominasi politik mereka, sistem persepsi pria dominan, menghambat ekspresi bebas dari model alternatif wanita mengenai dunia.
•    Agar dapat berpartisipasi di masyarakat, wanita harus mentransformasi model mereka sendiri sesuai dengan sistem ekspresi pria yang diterima.
Kelemahan teori dan kritik
Teori kelompok bungkam telah dikritik karena tidak memiliki kegunann karena teori ini terlibat dalam esensialisme, atau keyakinan bahwa semua pria pada esensinya adalah sama dan semua wanita pada esensinya adalah sama dan keduannya berbeda satu sama lain.
Tidak terlalu banyak kajian yang telah menggunakan teori kelompok bungkam sebagai kerangka, dan sedikit yang menggunakannya sering kali tidak menghasilkan dukungan empiris. Kritikus menyatakan bahwa teori ini harus dibuang karena asumsi-asumsinya yang kuno tidak divalidasi secara empiris.
Teori kelompok bungkam adalah teori yang provokatif dan menyebabkan kita berpikir dalam bias bahasa. Teori ini juga memberikan penerangan pada apa yang kita terima dan kita tolak dari pembicara. Selain itu, teori ini juga menjelaskan beberapa permasalahan yang dialami wanita dalam berbicara di berbagai latar. Terserah kepada kita untuk memutuskan apakah isu-isu ini membentuk bias yang sistematis terhadap kelompok bawahan dan mendukung kelompok dominan, sebagaimana dinyatakan teori kelompok bungkam.


Senin, 02 Januari 2012

Media Baru, Media Sosial dan Ruang Publik bagi Masyarakat


 oleh: Innas Rizky Afria

Media baru merupakan sebuah terminologi untuk menjelaskan konvergensi antara teknologi  komunikasi digital yang terkomputerisasi serta terhubung ke dalam jaringan. Contoh dari media yang sangat merepresentasikan media baru adalah internet. Program televisi, film, majalah, buku, surat kabar, dan jenis media cetak lain tidak termasuk media baru. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial , wiki, forum, dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia (www.wikipedia.org).

Mediamorfosis sebagai Dampak Kemajuan Teknologi
Berbicara tentang teknologi media baru, tak bisa dilepaskan dari konteks globalisasi. Globalisasi sebagai hasil perkembangan teknologi transportasi komunikasi dan informasi memungkinkan interaksi antara setiap orang di dunia lebih cepat dari masa-masa sebelumnya. Era internet telah menjadi sebuah fenomena revolusioner pasca industri. Ia telah mampu membangun sebuah konektivitas yang masif, yang sebelumnya hampir tidak pernah dapat dibayangkan. Situasi ini telah disinggung oleh Thomas Friedman (2006) dalam bukunya The World Is Flat.
Kemajuan teknologi internet, yang puncaknya terjadi pada penemuan World Wide Web (www), telah melahirkan sebuah “dunia baru” yang saling terkoneksi, dan seakan menjadi satu kesatuan. Hal ini berubah menjadi sebuah medium berbagi yang efektif, di mana setiap individu di seluruh dunia dapat berkomunikasi dan bertukar informasi satu sama lain secara efisien. Siapapun di dunia ini, secara face to face, tanpa “sekat”  bercanda dan bertegur sapa kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu media baru yang berupa internet tersebut dikatakan sebagai dunia tanpa batas. Kemunculan teknologi baru ini memiliki potensi untuk menghubungkan orang secara efektif, teknologi bisa membantu membentuk komunitas baru dengan menjembatani perbedaan budaya dan melarutkan hambatan dalam ruang dan waktu. Masyarakat dapat melihat tatanan sosial yang ideal di mana teknologi baru mendorong pemahaman budaya sehingga orang dapat mempelajari mengenai budaya yang berbeda dan kemudian bisa menciptakan satu keselarasan dengan saling bertukar informasi maupun pengalaman.
Menurut pandangan Winston (dalam Fidler, 2003: 29), akselerator yang mendorong perkembangan berbagai teknologi media baru adalah kebutuhan sosial yang muncul akibat perubahan (supervening social necessities). Ini dipahami sebagai “hubungan timbal balik antara masyarakat dan teknologi”. Kebutuhan ini berasal dari kebutuhan perusahaan, tuntutan akan teknologi lain, penetapan regulasi/hukum, dan kekuatan-kekuatan sosial.
Perkembangan teknologi mendorong proses yang disebut oleh Roger Fidler sebagai mediamorfosis. Mediamorfosis diartikan sebagai media komunikasi, yang biasanya ditimbulkan akibat hubungan timbal balik yang rumit antara berbagai kebutuhan yang dirasakan, tekanan  persaingan dan politik, serta berbagai inovasi sosial dan teknologi (Fidler, 2003: 35).
Teknologi baru akan mampu mengakhiri masalah-masalah sosial dan mengarah pada pengembangan dunia sosial yang ideal. Tetapi dalam jangka pendek, industrialisasi teknologi baru juga bisa menimbulkan masalah, antara lain eksploitasi besar pada para pekerja, polusi, dan kerusuhan sosial. Apalagi ketika masyarakat belum mampu mengadopsi suatu teknologi baru namun dipaksakan menerimanya.
Pada saat ini kita dihadapkan pada satu permasalahan yang cukup mendasar tentang informasi yang beredar dan ilmu pengetahuan. Internet telah diyakini banyak orang sebagai sumber informasi yang aktual. Namun, di era seperti sekarang ini informasi-informasi yang beredar di internet semakin menyesaki kehidupan dan tidak terkontrol sehingga semakin susut maknanya. Informasi bukan hanya kehilangan maknanya, informasi juga telah berubah menjadi barang yang bisa dikonsumsi dan dikomersialisasikan. Informasi telah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan tanpa memperhitungkan aspek kegunaan dan manfaatnya. Masyarakat informasi larut dalam informasi dan punya ketergantungan yang luar biasa akan perangkat teknologi informasi maupun komunikasi. Saat ini, kualitas ilmu pengetahuan yang beredar di internet pun perlu dipertanyakan kembali.
Selain permasalahan tersebut, perkembangan teknologi media juga akan berkaitan dengan tingkat perbedaan kemakmuran masyarakat pengguna jasa internet. Semakin kaya suatu masyarakat, akan semakin besar aksesnya pada informasi di internet sehingga internet hanya akan bisa dijangkau oleh mereka yang memiliki kapital besar. Ketimpangan ekonomi kemudian diikuti dengan pesebaran informasi dan pengetahuan yang selalu menjadi monopoli negara maju. Faktor SDM juga akan mempengaruhi pemahaman kita terhadap content dari internet yang kebanyakan cenderung berbahasa inggris. Hambatan lain adalah jurang kemelekan teknologi (literacy of technology) antara negara maju dan negara berkembang.
Marak dan berkembang pesatnya teknologi yang turut mendorong kemunculan media baru didasarkan atas tiga hal. Pertama, kekuatan-kekuatan ekonomi, politik, dan sosial memainkan peran besar dalam perkembangan teknologi-teknologi baru. Kedua, berbagai penemuan dan inovasi tidak diadopsi secara luas lantaran keterbatasan teknologi itu sendiri. Ketiga, pasti selalu ada kesempatan dan alasan ekonomi, sosial dan politik yang mendorong pengembangan teknologi baru (Winston, dalam Fidler, 2003: 29).

Munculnya Belahan Sosial Baru
Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita.
Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media sosial baru. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan media sosial dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya.
Kemunculan internet sebagai sebuah sistem yang masif, telah memberi konsekuensi pada berbagai segi. Jhon Naisbitt menaruh kepercayaan besar pada kemampuan teknologi informasi untuk membawa perubahan radikal dalam semua ranah, termasuk ekonomi. Baginya, informasi memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan radikal dengan menciptakan kompleksitas dalam relasi sosial, ekonomi, maupun ranah-ranah lainnya (dalam Jatmiko, 2005: 25).
Munculnya masyarakat informasi yang mewujudkan belahan sosial (social cleavage) baru semakin memberi pengaruh terhadap kehidupan sosial di masyarakat. Kelompok ini didominasi oleh orang-orang muda yang menguasai informasi dan teknologi informasi, mereka tergabung dalam komunitas-komunitas virtual yang terkoneksi. Kemunculan media sosial seperti facebook, twitter, plurk, youtube, memberi kontribusi yang berarti pada pesatnya perkembangan dunia sosial tanpa batas tersebut. Pada akhir tahun 2010 saja, diprediksi ada sekitar 2 miliar orang yang terkoneksi oleh internet, 500 juta orang terdaftar sebagai pengguna facebook, dan yang paling mengejutkan, laju pertumbuhan pendaftar twitter tercatat sekitar 2,1 juta per minggu (Davies, dalam Ishak, 2011).
Selanjutnya, masyarakat ini menjadi individu yang memiliki sifat-sifat independen, kuat, berpengaruh, dan bekerja dalam prinsip-prinsip yang setara. Mereka memiliki kepentingan yang berbeda-beda dan makin variatif. Kondisi ini melahirkan sebuah asumsi bahwa media sosial yang dijalankan oleh kelompok muda yang memiliki visi yang kuat telah berubah menjadi perangkat yang efisien, powerful, dan terbuka, yang dapat memfasilitasi berbagai pandangan dan kepentingan yang sebelumnya cukup tertutup. Kemunculan media sosial telah memberikan perubahan yang cukup drastis pada berbagai organisasi tradisional. Banyak organisasi bisnis, politik, sosial yang telah mengadaptasi media sosial sebagai bagian dari perangkat strategis internal organisasi (Rasha Proctor, 2011 dalam www.kompasiana.com). Media sosial tidak lagi dianggap sekadar fenomena interaksi (komunikasi) biasa, namun ia telah menjadi faktor determinan yang dianggap mampu mengubah lingkungan secara dramatis.

Internet dan Penciptaan Ruang Publik
Di tengah perkembangan zaman dengan ditandainya kemajuan teknologi dengan pesat, termasuk dalam industri media, terdapat segala manfaat dan resikonya. Semua ini merupakan implikasi logis dari perkembangan zaman. Ketertinggalan mengenal dan menguasai teknologi akan semakin membuat kita berada jauh di belakang dari sebuah peradaban.
Saat ini media sosial seperti media baru di ranah maya yang berhasil menemukan momentumnya. Lahirnya teknologi internet semakin membuat booming penggunaan media sosial. Semua orang terbukti memang senang berbagi dan mendengar rekomendasi teman dan jejaringnya di dunia maya.
Kehadiran internet telah membuka ruang baru, yaitu sebuah “ruang imajiner” yang di dalamnya setiap orang dapat melakukan apa saja yang bisa dilakukan dalam kehidupan sosial sehari-hari dengan cara yang baru (Pialang, 2005: 7). Cara artifisial ini sangat mengandalkan peran teknologi, khususnya teknologi komputer dan informasi dalam mendefinisikan realitas, sehingga berbagai kegiatan yang dilakukan di dalamnya seperti bersenda gurau, berdebat, diskusi, bisnis, brainstorming, gosip, protes, kritik, bermain, bermesraan, bercinta, menciptakan karya seni, dapat dilakukan di dalam cyberspace (ruang publik tanpa batas).
Dalam era globalisasi pasar dan informasi dewasa ini, sulitlah membayangkan adanya forum atau panggung komunikasi politis yang bebas dari pengaruh pasar ataupun negara. Kebanyakan seminar, diskusi publik, demonstrasi, dan seterusnya didanai, difasilitasi, dan diformat oleh kekuatan finansial besar, entah kuasa bisnis, partai, atau organisasi internasional dan seterusnya. Hampir tak ada lagi lokus yang netral dari pengaruh ekonomi dan politik. Seperti halnya yang dijelaskan oleh Winston di atas, bahwa akan selalu ada alasan ekonomi, sosial, dan politik serta kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik dalam  perkembangan teknologi media.
Analisis Habermas, membayangkan masyarakat kompleks dewasa ini sebagai tiga komponen besar, yaitu sistem ekonomi pasar (kapitalisme), sistem birokrasi (negara), dan solidaritas sosial (masyarakat), lokus ruang publik politis terletak pada komponen solidaritas sosial (dalam Hardiman, 2006). Dia harus dibayangkan sebagai suatu ruang otonom yang membedakan diri, baik dari pasar maupun dari negara. Setidaknya dengan adanya era globalisasi dan demokratisasi, telah terbuka ruang-ruang umum yang bebas diakses oleh masyarakat umum. Dengan demikian seharusnya dengan terbukanya ruang publik tersebut, dapat dijadikan sarana untuk berkomunikasi untuk mendiskusikan atau menyelesaikan persoalan yang menyengkut hajat hidup orang banyak. Ruang-ruang tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan oleh seluruh elemen baik antar lembaga pemerintah maupun masyarakat sipil dan pemerintah. Kita harus bisa memanfaatkan peluang yang ada untuk mendukung demokratisasi dan kebaikan bersama.
Masyarakat sipil tidak hanya sebagai aktor atau pelaku, tetapi mereka juga merupakan penghasil ruang publik politis itu sendiri. J.Cohen dan A. Arato, memberikan ciri ruang publik politis yang dihasilkan oleh masyarakat sipil yaitu adanya pluralitas (seperti keluarga, kelompok nonformal, dan organisasi sukarela), publisitas (seperti media massa dan institusi budaya), privasi (seperti moral dan pengembangan diri), dan legalitas (struktur hukum dan hak-hak dasar). Itu artinya rakyat sipil bisa turut aktif dalam menciptakan ruang publik politis tersebut untuk menyuarakan opini, saran, maupun kritik terhadap sistem politik yang sedang berjalan.
Dalam demokrasi, ruang publik tidak harus ruang-ruang formal, tetapi juga bisa berupa ruang yang sifatnya informal. Hadirnya internet sebagai cyberspace mampu membuka ruang demokrasi, karena dunia maya adalah dunia yang tanpa otoritas. Penggunanya dapat mengekspresikan diri dalam menghadapi kehidupan sosial mereka. Ketika ruang-ruang publik yang ada dalam dunia nyata sulit terbentuk karena adanya dominasi kekuasaan yang mengekang, maka media sosial berupa internet ini memberikan tawaran bagi ruang publik baru. Setiap orang berhak dan bebas bersuara, mengkritik, serta berpendapat terhadap fenomena sosial di sekitarnya, termasuk juga mengkritik penguasa, karena dalam media ini adalah ruang terbuka yang menurut Pialang (2005:12) bersifat egalitarian.
Sebuah sistem demokrasi mengharuskan adanya kebebasan pers. Dengan adanya ruang bebas seperti ini, akan menjadikan media internet sebagai media kontrol terhadap kehidupan sosial-politik. Karena media merupakan salah satu pilar demokrasi, kebebasan pers merupakan pilar keempat dari demokrasi. Tentunya kebebasan pers yang disertai dengan tanggung jawab sosial. Pemanfaatan ruang publik, termasuk juga cyberspace, sangat diperlukan demi melancarkan demokratisasi. Masyarakat seharusnya bisa memanfaatkan ruang-ruang yang ada untuk berpartisipasi di dalam sistem politik. Tetapi pada kenyataannya saat ini masyarakat masih belum mampu sepenuhnya memanfaatkan ruang publik yang ada untuk terlibat dalam sistem politik.

Daftar Pustaka

Fidler, Roger. 2003, Mediamorfosis: Memahami Media Baru, (terj. oleh Hartono Hadikusumo, Mediamorfosis: Understanding New Media), Cetakan ke-1, Bentang Budaya, Yogyakarta.
Hardiman, F. Budi. 2006, ”Ruang Publik Politis: Komunikasi Politis dalam Masyarakat Majemuk”, dalam http://duniaesai.com/komunikasi/kom1.htm, yang diakses tanggal 13 April 2007, bersumber dari Kompas Cyber Media.
Ishak, Tomy. 2011, “Kaum Muda, Politik, dan Media Sosial”, artikel opini dalam  http://sosbud.kompasiana.com/kaum_muda_politik_media_sosial.html, diakses pada tanggal 21 Desember 2011.
Jatmiko, Bambang P. 2005, “Hikayat Kapital dalam Geliat Abad Informasi”, Jurnal Balairung, Edisi 38/XIX, Tahun 2005, Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) UGM, Yogyakarta. Halaman 24-33.
Pialang, Yasraf Amir. 2005, “Cyberspace dan Perubahan Sosial: Eksistensi, Identitas, dan Makna”, Jurnal Balairung, Edisi 38/XIX, Tahun 2005, Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) UGM, Yogyakarta. Halaman 6-13.